Arquebus Jawa (Sekitar abad ke-15 M)

Arquebus Jawa merujuk pada senjata api panjang dari kepulauan Nusantara. Asalnya dapat dilacak kembali ke perempat terakhir abad ke-15 Masehi
Senjata itu digunakan oleh tentara lokal, meskipun dalam jumlah rendah dibandingkan dengan jumlah total pasukan, sebelum kedatangan penjelajah Iberia (orang Portugis dan Spanyol) pada abad ke-16. Dalam catatan sejarah, senjata ini dapat digolongkan sebagai senapan sundut atau senapan lontak.
Istilah "arquebus Jawa" (arquebus adalah sinonim dari senapan sundut) adalah terjemahan dari kata bahasa China 爪哇銃 (Zua Wa Chong).
Dalam bahasa lokal, senjata itu dikenal dengan berbagai nama, bedil atau bedhil lebih umum digunakan. 
Namun, istilah ini memiliki arti luas,  mungkin merujuk pada berbagai jenis senjata api dan senjata bubuk mesiu, dari pistol matchlock kecil sampai meriam pengepungan yang besar. 
Istilah bedil berasal dari kata wedil (atau wediyal) dan wediluppu (atau wediyuppu) dari bahasa Tamil.
Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini secara berurut merujuk pada ledakan mesiu dan niter (kalium nitrat). 
Tapi setelah terserap menjadi bedil pada bahasa Melayu, dan di sejumlah budaya lain di kepulauan Nusantara, kosakata Tamil itu digunakan untuk merujuk pada semua jenis senjata yang menggunakan bubuk mesiu. 
Pada bahasa Jawa dan Bali istilah bedil dan bedhil dikenal, pada bahasa Sunda istilahnya adalah bedil, di bahasa Batak sebagai bodil, di bahasa Makassar, badili, di bahasa Bugis, balili, di bahasa Dayak, badil, di bahasa Tagalog, baril, di bahasa Bisaya, bádil, di rumpun bahasa Bikol, badil, dan orang Melayu orang memanggilnya badel atau bedil.
Pengetahuan membuat senjata berbasis serbuk mesiu di Nusantara sudah dikenal setelah serangan Mongol ke Jawa (1293 M), sampai akhirnya berkembang menjadi meriam putar kecil seperti cetbang dan lantaka. Sedangkan Meriam galah (bedil tombak) dicatat digunakan oleh Jawa pada tahun 1413 Masehi.
Namun pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh kemudian, setelah pertengahan abad ke-15. Senjata tersebut dibawa oleh negara-negara Islam di Asia Barat, kemungkinan besar oleh orang Arab. 
Tahun pengenalan yang tepat tidak diketahui, tetapi dapat dengan aman disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460 Masehi.
Perkembangan di Jawa, dimulai ketika periode Kerajaan Majapahit, yang memelopori penggunaan senjata berbasis mesiu di kepulauan Nusantara. 
Suatu catatan tentang penggunaan senjata api pada pertempuran melawan pasukan Giri pada sekitar tahun 1500-1506 Masehi, yang berbunyi:
"... wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis ..."
"... pasukan Majapahit menembaki (bedil=senjata api), sementara pasukan Giri berguguran karena mereka tidak kuat dihujani peluru (mimis=peluru bulat)..."
- Serat Darmagandhul.
Arquebus ini memiliki kemiripan dengan arquebus Vietnam pada abad ke-17. Senjata ini sangat panjang, dapat mencapai 2,2 m panjangnya, dan memiliki dudukan bipod yang dapat ditekuk.
Catatan Tome Pires tahun 1513 Masehi menyebutkan pasukan tentara Gusti Pati, wakil raja Batara Brawijaya, berjumlah 200,000 orang, 2,000 diantaranya adalah prajurit berkuda dan 4,000 adalah musketir.
Duarte Barbosa sekitar tahun 1514 Masehi mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat disana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.
Orang-orang Tiongkok memuji senjata api negara Selatan:
Liuxianting (劉獻廷 - ahli geografi era Qing awal) dari Dinasti Ming dan Qing mengatakan: "Orang Selatan pandai dalam peperangan senjata api, dan senjata api Selatan adalah yang terbaik di bawah langit". Qu Dajun (屈大均) berkata: "Arquebus Selatan, khususnya arquebus Jawa (爪哇銃) diibaratkan crossbow yang kuat. Mereka digantung di bahu mereka dengan tali, dan mereka akan dikirim bersama saat bertemu musuh. Mereka bisa menembus beberapa baju zirah berat".
Dalam periode Melayu, Portugis menemukan berbagai senjata serbuk mesiu setelah penaklukan Malaka pada tahun 1511 Masehi. Diketahui bahwa orang-orang Melayu mendapatkan senjata dari Jawa.
Dalam The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque "senapan matchlock besar", sering disebutkan di buku itu. Dalam serangan pertama ke Malaka, orang-orang Portugis yang mendekat ditembak oleh orang-orang muslim di Malaka:
"Dua jam sebelum fajar, Afonso Dalboquerque memerintahkan terompet ditiup, untuk membangunkan mereka, dan mereka segera berangkat dengan semua orang-orang bersenjata dan naik ke atas kapalnya, dan ketika sebuah pengakuan umum telah telah dibuat, semua berangkat bersama-sama dan datang ke mulut sungai tepat saat pagi hari, dan menyerang jembatan, masing-masing batalion dalam urutan yang telah ditugaskan untuk itu. Kemudian orang-orang Moor (muslim) mulai menembaki mereka dengan artileri mereka, yang dipasang di kubu-kubu, dan dengan senapan matchlock besar mereka melukai beberapa orang kami."
Mereka juga digunakan ketika orang Portugis mundur dalam serangan pertama:
"Ketika orang-orang Moor merasa bahwa mereka sedang mundur, mereka mulai melepaskan tembakan dengan senapan matchlock besar, panah, dan sumpitan, dan melukai beberapa orang kami, namun dengan cepat Afonso Dalboquerque memerintahkan orang-orang itu untuk membawa lima puluh bombard besar yang telah ditangkap di kubu-kubu, jembatan", 
Joao de Barros menggambarkan suatu kejadian saat penaklukan itu di buku Da Asia:
"Begitu jung itu melewati tepi pasir dan membuang jangkar, tidak jauh dari jembatan, artileri orang muslim melepaskan tembakan ke arahnya. Beberapa senjata melepaskan peluru timah pada jarak waktu tertentu, yang melewati kedua sisi kapal, melakukan banyak pembunuhan di antara para kru. Di tengah panasnya aksi itu Antonio d'Abreu, sang komandan, tertembak di pipi oleh sebuah fusil (espingardão), yang membawa banyak giginya".
Senapan-senapan matchlock yang menembak menembus melalui kedua sisi kapal mereka, memiliki laras yang sangat panjang dan kaliber 18 mm.
Sejarawan Fernão Lopes de Castanheda menyebutkan senapan matchlock (espingardão - espingarda / arquebus besar), dia mengatakan bahwa mereka melempar mimis, beberapa terbuat dari batu, dan sebagian dari besi tertutup timah.
Putra Afonso de Albuquerque menyebutkan persenjataan Malaka: Ada senapan matchlock besar, sumpitan beracun, busur, panah, baju berlapis besi (laudeis de laminas), tombak Jawa, dan jenis senjata lainnya. 
Setelah Malaka dikuasai Portugis, mereka menangkap 3000 dari 5000 senapan yang telah diberi Jawa.
Pada periode Indocina, Đại Việt dianggap oleh dinasti Ming China telah menghasilkan senapan matchlock yang sangat maju selama abad 16-17 Masehi, bahkan melampaui senjata api Ottoman, Jepang, dan Eropa. 
Pengamat Eropa dari perang Lê–Mạc dan perang Trịnh–Nguyễn juga mencatat kemampuan pembuatan matchlock oleh orang Vietnam, yang dikatakan mampu menembus beberapa lapis baju besi, membunuh dua hingga lima orang dalam satu tembakan, namun juga menembak dengan sunyi untuk senjata sekalibernya.
Orang China menyebut senjata ini sebagai Jiao Chong (交銃, berarti arquebus Jiaozhi), dan mencatat kesamaannya dengan Zhua Wa Chong / arquebus Jawa.

---------------------------
Oleh: Bhre Polo
Sumber:

Komentar