Peradaban Weda (1500–500 SM) | Peradaban India Kuno

Gambaran Umum:

Peradaban Weda adalah masa dalam sejarah India kuno, ketika bangsa Indo-Arya bermigrasi dan menetap di anak benua India, serta menyusun dan melestarikan kitab suci Weda yang merupakan dasar agama Hindu.
Peradaban Weda atau zaman Weda adalah suatu periode ketika Weda sedang dikumpulkan dan disusun, sekitar pertengahan milenium kedua sampai pertengahan milenium pertama SM, yang merupakan akhir dari Zaman Perunggu dan awal Zaman Besi dalam periodesasi sejarah India.
Perlu diingat, Periode Pra-Weda adalah masa transisi dari Peradaban lembah Sungai Indus, menuju Peradaban Weda, yang dicirikan sebagai masa historis sebelum teks-teks Weda dibukukan, dan ditandai oleh praktik-praktik seperti ritual konsumsi daging dan makanan non-vegetarian, sebagaimana tercantum dalam kumpulan teks sastra agama Hindu yang disebut Purana.
Era ini penting bagi pemujaan awal dewa-dewa seperti Siwa dan menunjukkan tradisi peradaban dan pengobatan yang telah lama ada, menurut Ayurveda. Dalam sejarah India yang lebih luas, periode Pra-Weda juga dikaitkan dengan agama-agama suku yang menunjukkan kemiripan dengan praktik keagamaan awal, yang menyoroti fondasi budaya India, sebagai periode transisi menuju peradaban Weda.
Peradaban ini sangat terkait dengan peradaban lembah sungai Indus, karena muncul setelah kemunduran nya, dengan bangsa Arya yang membawa budaya Weda,  dan diperkirakan sangat berperan dalam peristiwa tersebut, selain dikarenakan faktor alam.
Peradaban Lembah Indus adalah peradaban perkotaan yang mulai mengalami kemunduran sekitar 1900 SM, hingga akhirnya menghilang sekitar tahun 1300 SM. Sementara Peradaban Weda diawali dengan sifat pedesaan dan dimulai sekitar pertengahan milenium kedua SM.
Namun, terdapat bukti yang menunjukkan kesinambungan budaya, seperti ditemukannya altar yajna, yang banyak ditemukan di situs-situs Lembah Indus. Hal ini menunjukkan adanya tradisi ritual yang serupa dengan praktik dalam budaya Weda. Serta beberapa kemiripan dalam konsep keagamaan, seperti pemujaan Dewa Siwa atau dewi ibu, dan tampaknya telah diserap dan terus berkembang dalam tradisi Hindu yang kemudian menjadi dasar dari budaya Weda. 
Mengenal Kitab Weda
Terkait kitab Weda, secara bahasa ber arti: "ilmu pengetahuan", yang merupakan kitab suci agama Hindu. Dalam ajaran tersebut, kitab ini termasuk dalam golongan Sruti (atau secara harfiah berarti "yang didengar"), karena umat Hindu percaya bahwa isi Weda merupakan kumpulan wahyu dari Brahman (yang merujuk pada Tuhan). 
Weda diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban manusia yang masih ada hingga saat ini. Sastra ini berkembang di kebudayaan Kuru, yang  berawal dari persatuan suku dari beberapa suku Indo-Arya, dan berkembang sekitar  1200–345 SM,
Kitab suci Hindu yang paling tua dan pertama dari keempat kitab Weda, yang diperkirakan disusun awal, di sekitar Punjab, dikenal dengan Rigveda atau Rig Weda.
Weda awal ini, terdiri dari dua suku kata  yaitu "Ṛig" Yang Berarti "menyerukan/memuji" dan "veda" Berarti " Ilmu pengetahuan".
Kitab ini berisi tentang himne dan doa yang ditujukan kepada dewa-dewa  seperti Agni (dewa api) dan Indra (dewa perang), serta diskusi tentang kosmologi dan filosofi. Selain itu, kitab ini dianggap sebagai wahyu Tuhan yang diterima oleh para Resi,
Selain Rig Weda, terdapat 3 Weda lain, yang akan diuraikan sebagaimana berikut:
1. Samaweda: Berisi tentang melodi dan lagu yang digunakan dalam ritual keagamaan, sering kali berasal dari himne Rigweda.
2. Yajurweda: Berisi tentang mantra dan rumus-rumus yang digunakan dalam upacara Yadnya (kurban).
3. Atharwaweda: Mengandung pengetahuan suci yang bermanfaat untuk kehidupan, termasuk mantra magis dan pengetahuan tentang berbagai aspek kehidupan.

Weda merupakan kitab berbahasa Sansekerta, awalnya berkembang di wilayah India dan Pakistan bagian barat laut, yang diperkirakan telah diturunkan awal sekitar tahun 1500 SM dan berkembang hingga 500 SM. 
Perlu dipahami bahwa Kitab-kitab Weda, awalnya dihafal dan diturunkan secara lisan selama berabad-abad sebelum akhirnya ditulis dan dikodifikasikan. Konon, peng kodifikasi an atau pembukuan ini dikaitkan dengan Maharesi Krishna Dvaipayana Vyasa, yang diperkirakan awal penulisan dimulai di Dataran Indo-Gangga tengah sekitar  600 SM.

Perkembangan Peradaban Weda
Peradaban Weda merupakan masa transisi di mana pusat kebudayaan Weda bergerak dari barat laut ke lembah sungai Gangga, yang akhirnya menjadi pusat peradaban India di kemudian hari.
Perkembangan Peradaban Weda, terbagi menjadi dua periode, yaitu Periode awal dan periode akhir, yang akan diuraikan dalam penjelasan berikut:
1. Periode Weda Awal (sekitar 1500–1100 SM)
Periode Weda awal berpusat di wilayah barat laut anak benua India, yang dikenal sebagai Sapta Sindhu (wilayah tujuh sungai), termasuk Lembah Sungai Indus. Secara kronologis, fase awal periode Weda ini terjadi bersamaan dengan periode Harappa Akhir, dan pada fase ini terjadi transisi dari masyarakat nomaden ke masyarakat desa yang menetap.
Periode Weda Awal (sekitar 1500-1100 SM) atau Zaman Rig Veda ditandai dengan migrasi bangsa Indo-Arya ke wilayah barat laut India, khususnya Punjab, yang kemudian membentuk peradaban Weda, di India kuno.
Masyarakat pada periode ini, masih bersifat kesukuan dan pastoral (Penggembalaan),  dengan ekonomi yang didominasi peternakan dan pertanian terbatas.
Sistem sosialnya belum kaku dan hierarkis seperti pada periode selanjutnya, dengan perempuan menikmati posisi yang terhormat.
Periode awal ini terkait dengan budaya arkeologi seperti budaya Tembikar Berwarna Oker, budaya Makam Gandhara, dan budaya Tembikar Abu-abu, yang akan diuraikan dalam penjelasan berikut:
1) Budaya Tembikar Berwarna Oker (2000-1500 SM)
adalah budaya Zaman Perunggu di Dataran Indo-Gangga yang memiliki ciri keramik kasar berwarna oker (atau: ochre), warna alami tanah liat yang mengandung oksida besi, yang memberikan residu berwarna oker.
Budaya ini dianggap sebagai tahap akhir Zaman Perunggu India Utara yang berpotensi dikaitkan dengan periode Weda awal.
Budaya Tembikar berwarna Oker, tersebar di Dataran Indo-Gangga, dari sungai Gangga hingga Yamuna, mulai dari Punjab timur hingga Rajasthan timur laut serta Uttar Pradesh barat. 
Artefaknya memiliki kemiripan dengan fase akhir Peradaban Lembah Indus, serta menjadi tahap terakhir Zaman Perunggu di India Utara sebelum digantikan oleh Budaya Tembikar Berwarna  Abu-abu. Penemuan artefak tembaga dan adanya kereta perang di situs Sinauli menunjukkan kecanggihan teknologi dan perkembangan sosial masyarakatnya. 
2) Budaya makam Gandhara (sekitar 1500–1100 SM)
Budaya ini adalah budaya pemakaman kuno i wilayah Gandhara, Pakistan dan Afghanistan modern, yang dicirikan oleh praktik pemakaman, termasuk penguburan tunggal jenazah pada fase awal, dengan benda-benda tembaga dan tembikar di fase awal, lalu kremasi dengan abu yang dimasukkan dalam guci-guci tembikar pada fase pertengahan. 
Budaya ini, yang juga dikenal sebagai Budaya Swat, karena praktik pemakamannya yang unik dan banyak ditemukan di sepanjang lembah Sungai Swat, Pakistan.
Budaya ini dianggap sebagai bukti adanya migrasi Indo-Arya dan perpaduan dengan budaya lokal, serta menjadi landasan bagi Peradaban Weda di anak benua India.
3) Budaya tembikar berwarna abu-abu (1200–600 SM),
yaitu budaya Zaman Besi yang berlangsung di dataran Gangga dan lembah Ghaggar-Hakra. Budaya ini signifikan karena menciptakan masyarakat Zaman Besi pertama di India, yang diidentifikasi melalui pecahan tembikarnya yang menampilkan desain geometris di atas latar belakang abu-abu.
Budaya ini merupakan masa transisi dari periode Weda awal ke periode Weda akhir, dan dikaitkan dengan perkembangan kerajaan Kuru-Panchala, yang merupakan negara besar pertama di Asia Selatan. 

2. Periode Weda Akhir (sekitar 1100–500 SM)
Periode Weda akhir ini, Masyarakat Indo-Arya menyebar ke arah timur ke Dataran Gangga, menjadi lebih agraris. Adopsi peralatan besi memungkinkan pembukaan hutan dan penerapan sistem pertanian yang lebih mapan, dengan tanaman utama seperti gandum, beras, dan jelai. 
Pada periode ini, Kemajuan signifikan terjadi dalam ilmu astronomi, termasuk pemahaman tentang pergerakan langit dan kemampuan memprediksi gerhana. Penggunaan konsep angka nol dan perhitungan matematika dasar juga berkembang. 
Periode ini, menyaksikan pengumpulan dan kodifikasi mulai Rig Weda, Samaweda, Yajur Veda, dan Atharva Veda. Masa ini juga menjadi periode awal perumusan epos-epos terkenal seperti Ramayana dan Mahabharata. 
Selain itu, masa Weda akhir ini merupakan pembentukan dasar-dasar Brahmanisme dan sistem sosial varna (atau kasta). Perlu dipahami bahwa pada periode ini, Kedudukan perempuan dalam masyarakat mengalami penurunan.
Sekitar abad ke-6 SM, Muncul pergerakan keagamaan seperti Buddhisme dan Jainisme. Hal ini disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap ritualisme dan struktur hierarki kasta yang rumit dalam agama Weda. Pergerakan keagamaan tersebut dikenal dengan gerakan Sramana, yang berarti gerakan "pencari".
Pada periode Weda akhir ini, pusat kebudayaan dan politik bergeser ke timur, menuju Dataran Indo-Gangga bagian barat, dengan diawali  kebangkitan kebudayaan Indo-Arya, yang tersebar di beberapa wilayah di India kuno, yang berkembang menjadi republik aristokrat, yang awalnya disebut Janapada, dan berkembang menjadi Kerajaan-kerajaan Besar yang dikenal dengan Mahājanapada, sekitar abad keenam hingga keempat Sebelum Masehi, selama periode Weda akhir.
Uraian perkembangan Mahājanapada, akan dijelaskan sebagaimana berikut:
1) Mahājanapada Magadha (sekitar 1700 SM–625 M)
Magadha adalah sebuah wilayah dan kerajaan di India kuno, yang berpusat di Dataran Gangga bagian timur .
Wilayah Kerajaan Magadha awal, diperkirakan sesuai dengan distrik Patna  dan Gaya modern di negara bagian Bihar , India.
suku bangsa Kīkaṭa—yang disebutkan dalam Rigveda (3.53.14) bersama penguasa mereka, yaitu Pramaganda—sebagai nenek moyang Magadha, karena bangsa Kikata digunakan sebagai sinonim untuk Magadha dalam teks-teks selanjutnya.
Selain itu, dalam Rigveda "wilayah suku bangsa Kikata dengan jelas digambarkan berada di selatan Kurukshetra, di timur Rajasthan atau barat Madhya Pradesh, dan Magadha, yang berada di luar cakrawala geografis Rigveda
Setelah itu, Menurut Purana , dinasti Brihadratha yang legendaris adalah dinasti penguasa pertama Magadha, yang berkuasa sekitar 1700–682 SM.
Informasi pasti tentang penguasa awal Magadha sangat terbatas. Sumber-sumber terpenting adalah Kanon Pali Buddha , Agama Jain , dan Purana Hindu . Kerajaan Magadha kuno juga disebutkan dalam Ramayana dan Mahabharata .
Berdasarkan sumber-sumber Jain dan Buddha, tampaknya kerajaan Magadha selanjutnya diperintah oleh Dinasti Haryanka selama kurang lebih 130 tahun, sekitar tahun 543 hingga 413 SM,
2)  Mahājanapada Matsya (sekitar 1400-350 SM)
Matsya adalah sebuah kerajaan Weda dan kemudian menjadi bagian dari enam belas Mahajanapada.
Suku bangsa Matsya pertama kali disebutkan dalam Ṛgveda , di mana mereka muncul sebagai salah satu lawan Sudās selama Pertempuran Sepuluh Raja sekitar abad 14 SM.
Matsya awalnya adalah suku Indo-Arya kuno di India tengah yang keberadaannya dibuktikan pada Zaman Besi .
Anggota suku Matsya disebut Mātsyeya dan diorganisasikan ke dalam sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Matsya.
Ibukotanya, diperkirakan berada di Viratanagari (sekarang Bairat, di Rajasthan) yang konon dinamai menurut nama raja pendirinya, Virata .
Kerajaan Matsya biasanya dikaitkan dengan Kerajaan Surasena, yang beribukota di Mathura, didirikan oleh Satrughna, adik Raja Rama. 
Teks-teks Weda seperti Gopatha Brāhmaṇa menyebutkan suku Mātsyeya bersama dengan suku Śālva , dan suku Kauśītaki Upaniṣad menghubungkan mereka dengan suku Kuru dan suku Pañcāla .
Teks-teks Purana selanjutnya seperti Mahābhārata menghubungkan mereka dengan suku Trigarta dan Caidya , serta suku ManuSaṃhitā.
Sedangkan Naskah kuno dalam tradisi Pāñcarātra, mencantumkan negara-negara seperti Mātsyeya, Śūrasenaka, Pañcāla , dan Kuru-kṣetra , sebagai bagian dari Brahmarṣi-deśa, yaitu suatu daerah kantong suci para resi brāhmaṇa.
Sejarah Matsya selanjutnya tidak diketahui, meskipun Aṅguttara Nikāya Buddha memasukkannya ke dalam enam belas Mahājanapada (" kerajaan besar"), yang merupakan negara-negara paling kuat di India sebelum kelahiran Sang Buddha . 
Negara Matsya pada periode Mahājanapada secara arkeologis sesuai dengan budaya arkeologi Tembikar Hitam Utara, yang berkembang di bagian barat wilayah Gaṅggā - Yamunā, menggantikan budaya Tembikar Abu-abu.
Berbeda dengan negara-negara bagian lain di India Tengah yang meninggalkan bentuk kerajaan dan beralih ke bentuk pemerintahan gaṇasaṅgha (republik aristokrat ) pada akhir Zaman Besi, Kerajaan Matsya mempertahankan sistem monarki. Dan, akhirnya ditaklukkan oleh kekaisaran Magadha . 
3) Mahājanapada Gandhara (berawal sekitar 1200 SM)
Budaya Gandhara yang pertama kali tercatat adalah Budaya Kuburan yang muncul sekitar tahun 1200 SM dan bertahan hingga sekitar tahun 800 SM, dan dinamai berdasarkan praktik pemakaman mereka yang berbeda.
Budaya ini ditemukan di sepanjang aliran Sungai Swat Tengah , meskipun penelitian sebelumnya menganggapnya telah meluas hingga ke Lembah Dir , Kunar , Chitral , dan Peshawar. Budaya ini dianggap sebagai tanda migrasi Indo-Arya tetapi juga dijelaskan telah ber akulturasi dengan budaya lokal.
Memasuki periode Weda akhir, situasinya telah berubah, dan ibu kota Gāndhārī di Takṣaśila telah menjadi pusat pengetahuan penting tempat para pria Madhya-desa pergi untuk mempelajari tiga Weda dan delapan belas cabang ilmu pengetahuan, dengan Kauśītaki Brāhmaṇa mencatat bahwa para brāhmaṇa pergi ke utara untuk belajar.
Menurut Śatapatha Brāhmaṇa dan Uddālaka Jātaka , filsuf Weda terkenal Uddālaka Āruṇi termasuk di antara murid-murid Takṣaśila yang terkenal, dan Setaketu Jātaka mengklaim bahwa putranya, Śvetaketu, juga belajar di sana.
Dalam Chāndogya Upaniṣad , Uddālaka Āruṇi adalah salah seorang resi dan filsuf Weda dalam agama Hindu. Ia disebutkan dalam banyak pustaka Sanskerta dari zaman Weda, dan ajaran filosofisnya merupakan salah satu inti dari Brihadaranyakopanishad dan Candogyopanishad, dua judul naskah Upanisad terkuno.
Selama abad ke-6 SM, Gandhāra adalah kekuatan kekaisaran penting di Asia Selatan, periode Zaman Besi barat laut, dengan lembah Kaśmīra menjadi bagian dari kerajaan tersebut. Karena posisi penting ini, teks-teks Buddha mencantumkan kerajaan Gandhāra sebagai salah satu dari enam belas Mahājanapada (" kerajaan besar") di Asia Selatan pada periode Zaman Besi.
Selama invasi oleh Alexander Agung pada 327–326 SM, wilayah tersebut terbagi menjadi dua faksi. Raja Taxila , bersekutu dengan Alexander, sementara suku-suku Gandhara Barat, salah satu nya suku Aśvaka, yang menghuni di sekitar lembah Swat , menolaknya.
Setelah disintegrasi Kekaisaran Makedonia, Gandhara menjadi bagian dari Kekaisaran Maurya . Pendiri dinasti, Chandragupta Maurya (320–298 SM) , menurut legenda tentang masa mudanya telah menerima pendidikan di Taxila, di bawah Chanakya dan kemudian mengambil alih kendali dengan dukungannya. 
Selanjutnya, Gandhara secara berturut-turut dianeksasi oleh Indo-Yunani , Indo-Scythia , dan Indo-Parthia meskipun kerajaan Gandhara regional, yang dikenal sebagai Apracharajas , mempertahankan pemerintahan selama periode ini hingga kebangkitan Kekaisaran Kushan (30-370 Masehi) .
4) Mahājanapada Kuru (sekitar  1200-345 SM)
Kerajaan Kuru berawal dari persatuan suku bangsa Indo-Arya Weda, termasuk Bharata dan Puru, setelah periode Weda Awal.
Kerajaan Kuru dan Dinasti Kuru adalah inti dari kisah Mahabharata, yang menggambarkan konflik antara dua cabang keluarga besar, yaitu Pandawa dan Kurawa. 
Purana menelusuri asal usul Kuru dari keluarga Puru - Bharata . Kuru lahir setelah 25 generasi dinasti Puru, dan setelah 15 generasi Kuru, Kauravas dan Pandavas lahir. Aitareya Brahmana menempatkan Kuru di Madhyadesha dan juga merujuk pada Uttarakurus yang tinggal di luar Himalaya.
Menurut teks Buddha Sumangavilasini, orang-orang Kururashtra (Kuru) berasal dari Uttarakuru. Vayu Purana membuktikan bahwa Kuru , putra Samvarsana dari garis keturunan Puru, adalah leluhur eponim Kuru dan pendiri Kururashtra (Kuru Janapada) di Kurukshetra. Negara Kuru kira-kira sesuai dengan Thanesar modern , negara bagian Delhi , dan distrik Meerut di Uttar Pradesh.
Menurut Jataka , ibu kota Kuru adalah Indraprastha (Indapatta) dekat Delhi modern yang membentang tujuh liga.
Kerajaan ini berkembang pada Periode Weda Pertengahan (sekitar 1200–900 SM) dan mendominasi landscape politik India Utara. 
Pada masa Buddha, negara Kuru diperintah oleh seorang kepala suku tituler (konsul raja) bernama Korayvya.
Para Kuru memiliki hubungan perkawinan dengan Yadawa , Bhoja, Trigrata, dan Panchala. Ada referensi Jataka untuk raja Dhananjaya, diperkenalkan sebagai pangeran dari garis keturunan Yudhishtra . Meskipun orang-orang monarki yang terkenal pada periode sebelumnya.
Kerajaan Kuru diketahui telah beralih dari monarki absolut ke bentuk pemerintahan republik awal selama abad ke-6 hingga ke-5 SM.
Pada abad ke-4 SM, Arthashastra, sebuah risalah India Kuno tentang administrasi negara, kebijakan ekonomi dan strategi militer yang konon ditulis oleh Kautilya dan Viṣhṇugupta, membuktikan adanya sistem pemerintahan kolektif yang melibatkan majelis atau dewan yang membuat keputusan bersama, bukan seorang raja tunggal yang memegang seluruh kekuasaan.
5)  Mahājanapada Pañcāla (sekitar  1100-340 SM)
Panchala adalah sebuah kerajaan kuno di India utara , terletak di Doab Gangga-Yamuna di dataran Gangga Hulu yang diidentifikasi sebagai Kanyakubja atau wilayah di sekitar Kannauj . 
Selama masa Weda Akhir (sekitar 1100–500 SM), kerajaan Panchala menjadi salah satu negara bagian paling kuat di India kuno , yang bersekutu erat dengan Kerajaan Kuru .
Sekitar abad ke-5 SM, kerajaan tersebut telah menjadi konfederasi oligarki , dan dianggap sebagai salah satu solasa (atau enam belas) mahajanapada (atau negara bagian besar) di anak benua India .
Kerajaan Panchala sempat menjadi bagian dari Kekaisaran Maurya (sekitar 322–185 SM), akan tetapi kemudian menjadi merdeka lagi. Pemberian kemerdekaannya berakhir ketika Kekaisaran Gupta menganeksasi Panchala pada abad ke-4 Masehi.
6) Mahājanapada Kosala (sekitar 1100–500 SM)
Negara Kosala terletak di barat laut Magadha, dengan ibu kota Ayodhya . Wilayahnya meliputi Awadh (atau Oudh) modern di Uttar Pradesh Tengah dan Timur . Kerajaan Kosala berbatasan dengan Sungai Gangga di selatan, Sungai Gandak (Narayani) di timur, dan Pegunungan Himalaya di utara. Diperkirakan Ayodhya, Saketa , Banaras , dan Sravasti adalah kota-kota utama Kerajaan Kosala.
Kerajaan tersebut diperintah oleh raja Prasenajit yang termasyhur pada era Mahavira dan Buddha, diikuti oleh putranya, Vidudabha (atau Virudhaka ).
Raja Prasenajit berpendidikan tinggi. Posisinya semakin diperkuat oleh aliansi pernikahan dengan kerajaan Magadha, dan saudara perempuannya menikah dengan Bimbisara dan sebagian wilayah Kerajaan Kasi diberikan sebagai mas kawin. Namun, terdapat perebutan supremasi antara raja Pasenadi (Prasenajit) dan raja Ajatashatru dari Magadha yang akhirnya diselesaikan setelah konfederasi Liccavis ditaklukkan oleh Magadha. Kosala akhirnya digabung ke dalam Magadha ketika Vidudabha menjadi penguasa Kosala.
7) Mahājanapada Anga (sekitar 1100-530 SM)
Referensi pertama untuk Kerajaan Anga, ditemukan dalam teks Atharwaweda,  di mana mereka menemukan penyebutannya bersama dengan kerajaan Magadha, kerajaan Gandharis dan kerajaan Mujavats. Tampaknya, keempat kerajaan tersebut menjadi penguasa Antagonis dalam kitab Weda tersebut. 
Sedangkan Dalam teks Jaina Prajnapana (salah satu teks dalam agama Jainisme), menempatkan Kerajaan Anga dan kerajaan Vanga dalam kelompok pertama bangsa indo-Arya.
Ibu kota Aṅga, bernama Campā, diperkirakan terletak di pertemuan sungai Chanan dan sungai Gaṅgā , dan hal ini sesuai dengan wilayah modern Champāpurī dan Champanagar di Bhagalpur , bagian timur negara bagian Bihār , India.
Ibukota tersebut merupakan pusat perdagangan dan perniagaan besar, serta para pedagangnya secara teratur berlayar ke Svarnabhumi yang jauh .
dan akhirnya, Kerajaan Anga dianeksasi oleh kerajaan Magadha (yang berdiri sekitar 1600 SM – 625 M) pada masa Bimbisara yang berkuasa sekitar (544-405 SM) .
8) Mahājanapada Kāśī (sekitar 1000-600 SM)
Kerajaan Kasi beribukota di wilayah sekitar Varanasi, dibatasi oleh sungai Varuna di utara dan sungai Assi di selatan yang menjadi asal nama Varanasi.
Sebelum periode Buddha, sekitar abad ke-6 SM hingga abad ke-4 M, Kerajaan Kasi adalah yang paling berkuasa dari enam belas Mahajanapada.
Beberapa kisah jataka menjadi saksi keunggulan ibu kotanya atas kota-kota lain di India dan memuji kemakmuran dan kemewahannya.
Kisah-kisah ini menceritakan perebutan supremasi yang panjang antara kerajaan Kashi dan tiga kerajaan, yaitu kerajaan Kosala, kerajaan Anga , dan kerajaan Magadha. Meskipun Raja Brihadratha dari Kashi menaklukkan Kosala , Kashi kemudian dimasukkan ke dalam Kosala oleh Raja Kansa pada masa Buddha.
Suku Kashi, bersama dengan Kosala dan Videhan, disebutkan dalam teks-teks Weda dan tampaknya merupakan bangsa yang bersekutu erat. Matsya Purana dan Alberuni mengeja Kashi sebagai Kausika dan Kaushaka . Semua teks kuno lainnya menyebutnya sebagai Kashi.
9) Mahājanapada Malla (sekitar Abad ke-7 hingga Abad ke-4 SM)
Malla adalah suku Indo-Arya kuno di Asia Selatan bagian timur laut yang keberadaannya dibuktikan pada Zaman Besi .
Suku Malla sering disebutkan dalam karya-karya Buddha dan Jain . Mereka adalah orang-orang kuat yang tinggal di India Utara.
Menurut Mahabharata, Panduputra Bhimasena dikatakan telah menaklukkan kepala suku Malla dalam perjalanan ekspedisinya di India Timur. Selama periode Buddha, para Ksatria Malla adalah orang-orang republik dengan kekuasaan mereka yang terdiri dari sembilan wilayah yang sesuai dengan sembilan klan yang terkonfederasi. Negara-negara republik ini dikenal sebagai gaṇasaṅgha .
Dua dari konfederasi ini:
1. Kushinagar (Kasia modern dekat Gorakhpur ) sebagai ibu kotanya dan
2. Pava ( Fazilnagar modern , 20 kilometer, tenggara Kushinagar) sebagai ibu kotanya –
Kedua kota tersebut telah menjadi sangat penting pada zaman Buddha.
Kuśināra sangat penting dalam sejarah agama Buddha karena Sang Buddha makan terakhir kali, hingga jatuh sakit dan meninggal di Kusinara.
Dipercaya secara luas bahwa Buddha Gautama wafat di istana Raja Sastipal Mall di Kushinagar. Kushinagar.
Suku Malla, disebut oleh Manusmriti sebagai Vratya Kshatriya. Mereka juga disebut sebagai Vasettha dalam Mahapparnibbana Suttanta.
Suku Malla awalnya memiliki bentuk pemerintahan monarki, tetapi kemudian beralih ke bentuk pemerintahan Samgha (persatuan republik), dengan anggota yang menyebut diri mereka raja .
Suku Malla tampaknya telah membentuk aliansi dengan suku Licchavi untuk membela diri, tetapi kehilangan kemerdekaan mereka tak lama setelah wafatnya Buddha Gautama dan wilayah kekuasaan mereka dianeksasi oleh Kekaisaran Magadha.

10) Mahājanapada Ashmaka atau Assaka (sekitar 700-345 SM) 

Menurut teks-teks Buddha dan Purana, Kerajaan Ashmaka, atau dikenal pula Kerajaan Assaka berkuasa di wilayah Dakshinapatha atau India selatan, termasuk daerah-daerah di Andhra Pradesh , Telangana, dan Maharashtra saat ini . Pada masa Buddha Gautama, kekuasaan kerajaan hingga sepanjang  Sungai Godavari (selatan pegunungan Vindhya). 

Berdasarkan Literatur, Ibu kota Kerajaan Aśmaka merujuk pada kota yang diberi nama Podana, Kebanyakan cendekiawan mengidentifikasinya dengan Bodhan, saat ini di Telangana. Sementara beberapa mengaitkannya dengan Paithan modern di Maharashtra . 

Sastrawan Panini yang hidup sekitar abad keenam SM menyebutkan, Kerajaan Ashmaka, berada di pedalaman Deccan yang dilewati oleh aliran sungai Godavari, yang diidentifikasi dengan distrik Nizamabad modern .

Prasasti Hathigumpha dari Kharavela (sekitar abad ke-2 SM) menyebutkan ancaman Kharavela terhadap sebuah kota yang ditafsirkan secara beragam sebagai "Masika" (Masikanagara) atau "Asika" (Asikanagara). 

NK Sahu mengidentifikasi Asika sebagai ibu kota Ashmaka. 

Menurut Ajay Mitra Shastri , "Asika-nagara" terletak di desa Adam, saat ini di distrik Nagpur (di bantaran Sungai Wainganga ). 

Hal ini dibuktikan dengan temuan Sebuah segel terakota yang digali di desa tersebut, yang menyebutkan janapada Asmaka . 

Kerajaan Ashmaka juga mencakup daerah Mulaka di sekitar Paithan yang dikenal pada zaman kuno sebagai Pratishthana . 

Menurut Sutta Nipata, Saketa atau Ayodhya adalah tempat perhentian pertama di jalan selatan ( Dakshinapatha ) dari Shravasti ke Pratishthana.

Salah satu karya tertua dalam literatur Pali-Buddha, kitab Budha, berjudul Sutta-Nipata (ayat 976-977), menceritakan tentang seorang guru Brahmana bernama Bavarl, yang meninggalkan negeri Kosala dan menetap di dekat sebuah desa di Godavari di wilayah Assaka pada masa Dakshinapatha.

11) Mahājanapada Avanti (sekitar 700-300 SM) 

Avanti dikemudian hari merupakan kerajaan penting di India barat dan merupakan satu dari empat monarki besar di India pada era pasca Mahavira dan Buddha. Tiga lainnya adalah kerajaan Kosala , kerajaan Vatsa dan kerajaan Magadha . 

Kerajaan Avanti terbagi menjadi dua wilayah, yaitu di utara dan selatan, pegunungan Vindhya , dengan bagian utara, yang beribukota di Ujjenī, dialiri oleh sungai Sipra dan sungai-sungai lainnya, sedangkan bagian selatan dialiri oleh sungai Narmadā dan beribukota di Māhissatī. 

Kerajaan Avanti adalah pusat penting bagi agama Buddha, beberapa thera (atau: sesepuh biksu) dan theri (atau: sesepuh biksuni) terkemuka lahir dan tinggal di sana. 

Raja Nandivardhana dari Kerajaan Avanti dikalahkan oleh raja Shishunaga dari Magadha (memerintah Kekaisaran Magadha sekitar tahun 413–395 SM). Dan kemudian menjadi bagian dari kekaisaran Magadha.

12) Mahājanapada Śūrasena (sekitar abad ke 6 SM) 

Negara Surasena, beribukota di Madhura atau Mathura. Wilayah timur kerajaan, berbatasan langsung dengan Kerajaan Matsya dan sebelah barat, berbatasan dengan sungai Yamuna. 

Kekuasaan kerajaan Surasena diperkirakan hingga wilayah Brij di Uttar Pradesh, Haryana dan Rajasthan, serta distrik Gwalior di Madhya Pradesh. 

Avantiputra, raja Surasena, adalah yang pertama di antara murid-murid utama Buddha, yang melalui bantuannya, agama Buddha memperoleh tempat di negara Mathura. Andhaka dan Vrishni dari Kerajaan Surasena dirujuk dalam Ashtadhyayi, teks Sanskerta yang ditulis oleh Pāṇini. 

Dalam Arthashastra atau risalah Sanskerta India Kuno tentang tata negara, politik , kebijakan ekonomi , dan strategi militer, suku Vrishni digambarkan sebagai bagian sangha. Suku tersebut, dengan suku Andhaka, serta suku-suku sekutu lainnya dari Shoorsaini, membentuk sangha atau konfederasi suku. 

Perlu diketahui bahwa Mathura, ibu kota Surasena, juga dikenal pada masa Megasthenes sebagai pusat pemujaan Krisna. Kerajaan Surasena kehilangan kemerdekaannya setelah dianeksasi oleh Kekaisaran Magadha.

13) Mahājanapada Vajji (sekitar abad ke 6 SM) 

Vajji adalah Mahajanapada (kerajaan besar) kuno di India dengan Wilayah kekuasaan meliputi wilayah Mithila di Nepal dan Bihar utara, serta ibu kota kerajaan Vajji terletak dikota Vaishali. 

Kerajaan Vajji terdiri dari konfederasi delapan klan, termasuk Licchavi. Sistem pemerintahannya adalah gaṇasaṅgha atau sangha (majelis), bukan monarki. 

Ibu kota kerajaan Vajji, Vaishali, adalah pusat penting bagi agama Buddha dan agama Jain. Kota ini dianggap sebagai tempat kelahiran Mahavira, seorang Tirthankara (guru spiritual) agama Jain.

Selain itu, Sidang Buddha Kedua juga diadakan di Vaishali, yang dikenal dengan Konsili Buddha Kedua (atau Second Buddhist Council). Sidang ini diadakan sekitar 100 tahun setelah wafatnya Sang Buddha (sekitar 383 SM) di bawah perlindungan Raja Kalasoka dan dipimpin oleh biksu senior Sabakami.

Sekitar tahun 468 SM, Negara Sangha Vajji juga dianeksasi oleh Kekaisaran Magadha. 

14) Mahājanapada Vatsa (atau Vaṃsa) (sekitar abad ke 6 SM) 

Vatsa atau Vamsa (secara harfiah berarti "anak sapi" ) adalah salah satu dari enam belas Mahajanapada (atau kerajaan besar) Uttarapatha di India kuno yang disebutkan dalam Aṅguttara Nikāya, yang merupakan kumpulan khotbah Buddha yang merupakan bagian keempat dari Sutta Piṭaka dalam Kanon Pali (Agama Buddha Theravada).

Kerajaan Vatsa berpusat di sekitar wilayah Prayagraj modern, Uttar Pradesh, di pertemuan Sungai Yamuna dan Gangga. Ibu kotanya adalah Kausambi, kota yang makmur dan penting bagi perdagangan. 

Penguasa pertama dinasti Bhārata dari Vatsa, beberapa informasi menunjukkan bahwa penguasanya adalah Śatānīka II, Parantapa (sang penakluk). Sementara teks Purana menyatakan bahwa nama ayah Śatānīka II, adalah Vasudāna, yang identik dengan Sahasrānīka, yang menikahi Mṛgāvatī , seorang putri dari kepala suku Licchavi Ceṭaka. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang putra bernama Udayana, yang kelak menggantikan nya di usia masih muda. 

Menurut teks-teks kanonik Jain , Udayana masih di bawah umur ketika Śatānīka II meninggal, sehingga "tanggung jawab memerintah kerajaan jatuh ke pundak ratu Migāvatī ... sampai putranya cukup dewasa". Mrigavati, terkenal sebagai salah satu penguasa wanita paling awal yang diketahui dalam sejarah India, walupun hal tersebut tidaklah terlalu lama. 

Hanya sedikit yang diketahui secara pasti tentang kehidupan atau pemerintahan Kerajaan Vatsa ketika dipimpin oleh Raja Udayana, tapi yang perlu dipahami bahwa kehidupan nya se zaman dengan Siddhartha Gautama, yang hidup sekitar 536-400 SM. 

Menurut sumber-sumber Buddha, Sidharta mengunjungi Kauśāmbī beberapa kali selama pemerintahan Udayana dalam upayanya menyebarkan dharma, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan Empat Kebenaran Mulia. 

Raja Udayana adalah seorang upasaka (atau:pengikut awam) Buddha. 

Terjemahan bahasa Mandarin dari teks kanonik Buddha Ekottara Āgama menyatakan bahwa gambar pertama Buddha, yang diukir dari kayu cendana, dibuat atas instruksi Udayana.

Setelah itu, Menurut Purana, Udayana memiliki , 4 penerus, diantaranya adalah Vahināra, DanḍapāṇI , Niramitra, dan Kṣemaka .

Di periode berikutnya, kerajaan Vatsa kemudian dianeksasi oleh kerajaan Avanti, ketika masa raja Maniprabha, cicit dari raja Pradyota, yang memerintah di Kauśāmbī sebagai pangeran Avanti.

15) Mahājanapada Chedi (sekitar 600–300 SM) 

Masyarakat Chedi atau Chetya memiliki dua pemukiman berbeda, yang satu berada di pegunungan Nepal dan yang lainnya di Bundelkhand dekat Kausambi . 

Menurut sumber-sumber lama, suku Chedi terletak di dekat Yamuna, di tengah-tengah antara kerajaan Kuru dan kerajaan Vatsa . 

Pada abad pertengahan, perbatasan selatan Chedi meluas hingga ke tepi Sungai Narmada . Sotthivatnagara, Sukti atau Suktimati, Dalam Mahabharata , yang diperkirakan merupakan ibu kota kerajaan Chedi, salah satu kerajaan kuno di India dan yang disebutkan dalam Rigveda , bersama raja mereka yang bernama Kashu Chaidya. 

Lokasi ibu kota kerajaan Chedi diperkirakan di daerah Suktimati , akan tetapi hal ini belum ditetapkan dengan pasti. 

Sejarawan Hem Chandra Raychaudhuri dan FE Pargiter percaya bahwa pusat kota berada di sekitar Banda, Uttar Pradesh. 

Arkeolog Dilip Kumar Chakrabarti telah mengusulkan bahwa Suktimati dapat diidentifikasi sebagai reruntuhan kota bersejarah awal yang besar , yang merujuk pada nama modern Itaha, di pinggiran Rewa, Madhya Pradesh . 

16) Mahājanapada Kamboja (sekitar abad ke-5 SM) 

Kamboja juga termasuk dalam Uttarapatha atau jalur perdagangan kuno di India yang membentang dari Gandhara (sekarang Afghanistan) hingga pesisir Teluk Benggala, menghubungkan India Utara dan Asia Tengah. 

Dalam literatur kuno, kerajaan Kamboja secara beragam dikaitkan dengan Gandhara , Darada dan Bahlika (atau: Bactria). 

Kamboja kuno diketahui telah terdiri dari wilayah di kedua sisi Hindukush. 

Bangsa Kamboja awalnya terletak di negara Oxus timur sebagai tetangga Bahlika, tetapi seiring waktu, beberapa klan Kamboja tampaknya telah melintasi Hindukush dan mendirikan koloni di sisi selatannya juga. Kamboja yang terakhir ini dikaitkan dengan Darada dan Gandhara dalam literatur India, serta disebutkan dalam "Edicts of Ashoka ". 

Bukti dalam Mahabharata dan Geografi Ptolemeus dengan jelas mendukung adanya dua pemukiman Kamboja, yaitu di Wilayah cis-Hindukush dari Nurestan hingga Rajauri di barat daya Kashmir yang berbatasan dengan Darada dan Gandhara, yang membentuk negara Kamboja . 

Ibu kota kerajaan Kamboja kemungkinan adalah Rajapura (Rajori modern) di barat daya Kashmir. Mahajanapada Kamboja dalam tradisi Buddha mengacu pada cabang cis-Hindukush dari Kamboja kuno. 

Wilayah trans-Hindukush, termasuk Pamir dan Badakhshan , yang berbatasan dengan Bahlikas (Bactria) di barat serta Lohas dan Rishikas dari Sogdiana / Fergana di utara, membentuk negara Parama-Kamboja . 

Cabang trans-Hindukush dari Kamboja tetap murni dari Iran, tetapi sebagian besar bangsa Kamboja yang berasal dari cis-Hindukush tampaknya telah berada di bawah pengaruh budaya India. Bangsa Kamboja diketahui memiliki afinitas Iran dan India.

Kerajaan Kamboja merupakan negara republik yang terkenal sejak zaman Epik Mahabharata, yang merujuk pada beberapa gaṇasangha (atau Republik) dari bangsa Kamboja. 

Arthashastra karya Kautiliya membuktikan karakter republik bangsa Kamboja dan Maklumat No. XIII karya Ashoka juga membuktikan kehadiran bangsa Kamboja bersama dengan bangsa Yavana.  

Sutra karya Pāṇini, cenderung menyampaikan bahwa kerajaan Kamboja adalah monarki Kshatriya , akan tetapi "aturan khusus dan bentuk turunan luar biasa" yang ia berikan untuk menunjukkan penguasa bangsa Kamboja menyiratkan bahwa raja Kamboja hanya merupakan kepala tituler ( konsul raja ). 

Menurut teks-teks Buddha, empat belas Mahajanapada pertama di atas termasuk dalam Majjhimadesa ( India Tengah ) sedangkan dua terakhir termasuk dalam Uttarapatha atau divisi jalur perdagangan barat laut Jambudvipa, termasuk kerajaan Kamboja. 

Dalam perebutan supremasi yang terjadi pada abad ke-6 hingga 5 SM, negara Magadha yang sedang berkembang muncul sebagai kekuatan dominan di India kuno, mencaplok beberapa Janapada dari Majjhimadesa. 

Sebuah catatan pahit dalam Purana menyebutkan bahwa Kaisar Magadha, Mahapadma Nanda (400-329 SM) , membasmi semua Ksatria , dan tidak ada satu pun yang layak disebut Ksatria tersisa setelahnya. 

Hal ini merujuk pada kerajaan Kasi, Kosala, Kuru, Panchala, Vatsya, dan kerajaan neo-Weda lainnya di Punjab timur yang tidak pernah terdengar namanya kecuali dalam legenda dan puisi. 

Perlu diketahui bahwa suku bangsa Nanda merebut tahta Dinasti Shishunaga sekitar tahun  345 SM , sehingga mendirikan Kekaisaran Dinasti Nanda. 

Bangsa Kamboja dan Gandhara tidak pernah bersentuhan langsung dengan negara Magadha sampai periode Chandragupta dari Maurya (321–297 SM). 

Namun, bangsa-bangsa ini, menjadi mangsa Akhemeniyah dari Persia pada masa pemerintahan Koresh II (558–530 SM) atau pada tahun pertama pemerintahan Darius . Kerajaan Kamboja dan Gandhara membentuk satrapi kedua puluh dan terkaya di Kekaisaran Akhemeniyah. Koresh II konon telah menghancurkan kota Kamboja yang terkenal bernama Kapisi (sekarang Begram ) di Paropamisade .

Komentar