Fusi Budaya Dravida dan Indo-arya

Bangsa Dravida adalah penduduk asli India kuno yang membangun peradaban Lembah Indus di Mohenjodaro dan Harappa, sementara bangsa Indo-Arya adalah pendatang dari Asia Tengah yang membawa bahasa Sansekerta dan kebudayaan Weda. 
Sekitar 2000-1500 SM, Bangsa Indo-Arya mempengaruhi dan akhirnya menjadi bagian dari kebudayaan Lembah Indus hingga anak benua India bagian utara, bukan sebagai penakluk utama, akan tetapi lebih sebagai pengubah warna budaya peradaban Lembah sungai Indus. 

Seperti apa perkembangan kedua Suku bangsa ini, mari kita simak bersama, masih di Humaniora. 

Pembahasan pertama, terkait dengan Bangsa Dravida. 
Bangsa Dravida, atau penutur bahasa Dravida, adalah kumpulan kelompok etnolinguistik asli Asia Selatan yang berbicara bahasa Dravida .
Asal usul mereka sering dipandang terkait dengan Peradaban Lembah Indus , oleh karena itu masyarakat dravida menyebar ke timur dan selatan setelah runtuhnya Peradaban Lembah Indus pada awal milenium kedua SM, beberapa mengusulkan tidak lama sebelum kedatangan penutur Indo-Arya, yang berinteraksi secara intensif dengan mereka.  
Meskipun beberapa ahli berpendapat bahwa bahasa Dravida mungkin dibawa ke India melalui migrasi dari dataran tinggi Iran pada milenium keempat atau ketiga SM atau bahkan lebih awal, kosakata proto-Dravida yang direkonstruksi menunjukkan bahwa keluarga bahasa ini merupakan bahasa asli India. 
Penutur Dravida modern menunjukkan susunan genetik yang serupa, tetapi juga membawa sebagian kecil keturunan Penggembala Stepa Barat dan mungkin juga memiliki kontribusi tambahan dari kelompok pemburu-pengumpul lokal. 
Meskipun pada masa modern penutur berbagai bahasa Dravida sebagian besar menghuni wilayah selatan India, dan pastinya telah tersebar luas di seluruh anak benua India sebelum migrasi Indo-Arya ke anak benua tersebut. 
Asko Parpola, seorang Indolog dari Finlandia, yang menganggap bahwa orang Harappa adalah orang Dravida, dia mencatat bahwa situs Mehrgarh (7000–2500 SM), di sebelah barat lembah Sungai Indus, sekarang  terletak di Dataran Kacchi, Balochistan, Pakistan, adalah cikal bakal Peradaban Lembah Indus. 
Hal Ini adalah salah satu situs paling awal dengan bukti pertanian dan penggembalaan di Asia Selatan 

Identifikasi Bangsa Dravida
Peradaban Lembah Indus (sekitar 3.300–1.300 SM), berkembang di barat laut anak benua India kadang-kadang diidentifikasi sebagai peradaban Dravida. 
Pada tahun 1924, ketika diumumkan penemuan "Indus Valley Civilization", John Marshall menyatakan bahwa (salah satu) bahasa yang digunakannya kemungkinan adalah Dravida. 
Penemuan di Tamil Nadu dari sebuah batu celt, yang diperkirakan berasal dari akhir Neolitikum (awal milenium ke-2 SM, yaitu setelah penurunan Harappa) yang diduga ditandai dengan tanda-tanda peradaban Indus telah dianggap oleh beberapa orang sebagai hal yang signifikan untuk identifikasi sebagai bangsa Dravida. 
Yuri Knorozov menduga bahwa simbol-simbol tersebut mewakili aksara logosyllabic, yaitu sistem penulisan yang menggunakan kombinasi logogram (simbol yang mewakili kata atau morfem) dan silabogram (simbol yang mewakili suku kata). 
Yuri menyarankan, berdasarkan analisis komputer, bahasa Dravida aglutinatif sebagai kandidat yang paling mungkin untuk bahasa yang mendasarinya. 
Saran Yuri ini didahului oleh karya Henry Heras, yang menyarankan beberapa pembacaan tanda berdasarkan asumsi proto-Dravida. 
Sedangkan Ahli bahasa, Asko Parpola menulis bahwa aksara Indus dan bahasa Harappa "kemungkinan besar berasal dari keluarga Dravida". 
Parpola memimpin tim peneliti dari Finlandia dalam menyelidiki prasasti-prasasti tersebut menggunakan analisis komputer. 
Berdasarkan asumsi proto-Dravida, mereka mengusulkan pembacaan banyak tanda, beberapa di antaranya setuju dengan pembacaan yang disarankan Heras dan Knorozov (seperti menyamakan tanda "ikan" dengan kata Dravida untuk ikan, dengan kata"min"), walaupun beberapa tidak sependapat dengan pembacaan lainnya. Deskripsi komprehensif tentang karya Parpola hingga tahun 1994 dicatatkan dalam bukunya berjudul "Deciphering the Indus Script ". 
Selain itu, Bahasa Dravida mempengaruhi bahasa-bahasa Indo-Arya. Bahasa-bahasa Dravida menunjukkan leksikal (atau: kosakata) yang luas, tetapi hanya sedikit ciri peminjaman struktural (baik fonologis maupun gramatikal) dari bahasa Indo-Arya, sedangkan bahasa Indo-Arya menunjukkan lebih banyak peminjaman struktural daripada leksikal dari bahasa-bahasa Dravida. 
Banyak dari ciri-ciri ini sudah ada dalam bahasa Indo-Arya tertua yang diketahui, yaitu bahasa dalam Rigveda (sekitar 1500 SM), yang juga mencakup lebih dari selusin kata yang dipinjam dari bahasa Dravida. 
Bukti linguistik untuk pengaruh Dravida tumbuh lebih kuat saat kita beralih dari Samhita ke karya-karya Weda selanjutnya dan literatur pasca-Wedda klasik. 
Hal  Ini merupakan perpaduan agama dan budaya awal atau sintesis antara bangsa Dravida kuno dan Indo-Arya.
Michael Witzel percaya bahwa bangsa Indo-Arya pindah ke wilayah yang sudah berbahasa Dravida setelah bagian tertua dari Rig Veda telah disusun.
Dengan bangkitnya Kerajaan Kuru (sekitar  1200–345 SM), proses Bahasa Sanskerta dimulai, yang mempengaruhi seluruh India, dengan populasi di utara anak benua India sebagian besar berbicara bahasa Indo-Arya.

Bangsa Dravida didasarkan pada Genetika
Secara genetik, masyarakat Lembah Indus kuno sebagian besar terdiri dari nenek moyang pemburu-pengumpul (atau petani) yang berasal dari Iran kuno, dengan berbagai tingkat keturunan dari kelompok pemburu-pengumpul lokal. 
Berdasarkan analisis DNA, bangsa Dravida diperkirakan memiliki akar leluhur dari Asia Selatan dan mencakup campuran genetik dengan pengaruh dari stepa, Asia Barat, dan penduduk asli India kuno, serta ada bukti hubungan genetik dengan populasi Timur Tengah dan bahkan Tanduk Afrika. 
Keragaman genetik ini mencerminkan sejarah migrasi dan interaksi yang kompleks di subbenua India selama ribuan tahun. 
Ciri genetik bangsa Dravida mencakup kehadiran haplogrup kromosom Y seperti H, L, F, dan R2* yang umum di Asia Selatan, serta adanya garis keturunan kuno seperti F-M213, H-M69, dan C*-M216** yang terkait dengan pemukim awal di India. 
Analisis DNA juga menunjukkan bahwa populasi Dravida, seperti Vokkaliga dan Lingayat, memiliki tingkat kontribusi genetik dari leluhur Eurasia Barat dan komponen asli India Selatan Kuno. 
Dengan demikian, ciri genetik bangsa Dravida tidak hanya terbatas pada satu jenis DNA, tetapi merupakan gabungan dari berbagai garis keturunan yang mencerminkan sejarah migrasi dan interaksi dengan populasi lain di Asia Selatan. 

Agama dan Kepercayaan Bangsa Dravida
Kronologi agama dan kepercayaan bangsa Dravida berawal dari kepercayaan asli mereka yang bersifat animisme dan pemujaan roh nenek moyang serta Dewi Ibu dan dewa kesuburan. 
Hal ini terlihat dalam Karya sastra berbahasa Tamil kuno, yang dikenal dengan Tolkappiyam,yang diperkirakan ditulis ketika milenium pertama sebelum masehi, kemudian sepuluh antologi Pattuppāṭṭu, yang diperkirakan disusun antara abad ke-2 hingga ke-3 Masehi, dan delapan antologi Eṭṭuttokai, yang diperkirakan disusun antara abad ke-1 SM hingga abad ke-2 M. 
Ketiga nya menjelaskan agama Dravida kuno awal. 
Murugan (juga dikenal sebagai Seyyon), sangat dimuliakan, dikenal sebagai dewa merah yang duduk di atas merak biru, yang selalu muda dan cemerlang , sebagai dewa yang disukai masyarakat Tamil .  Selain itu, terdapat pula yang dikenal dengan Sivan,  juga dipandang sebagai Dewa tertinggi.
Bangsa Dravida adalah penduduk asli India yang sudah mendiami wilayah sekitar sungai Indus dan Gangga sekitar 3.000 SM dan memiliki kebudayaan yang maju serta terorganisir, termasuk pemerintahan dan tata kota yang rapi.
Kemudian, sekitar 2000-1500 SM, datanglah bangsa Arya dari wilayah utara yang membawa kepercayaan politeisme memuja banyak dewa seperti Trimurti yaitu: Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Bangsa Arya yang bermata pencaharian peternak dan bercocok tanam ini mulai berdampingan dan bercampur budaya dengan bangsa Dravida, lama-lama menyingkir ke wilayah selatan Pegunungan Vindhya. 
Proses perpaduan budaya dan kepercayaan Arya dan Dravida ini melahirkan agama Hindu sebagai sinkretisme, yang menjadi dominan di India selanjutnya. 
Sebelum adanya perpaduan ini, agama bangsa Dravida dalam hal keagamaan bersifat keibuan dengan pemujaan Dewi Ibu dan dewa kesuburan. 
Dalam kebudayaan Dravida juga ditemukan konsep yang mendahului Siwa (Proto-Shiva) serta pemujaan dewi dalam kepercayaan mereka. 
Bangsa Dravida dianggap sebagai cikal bakal kepercayaan Shaivisme dan Shaktisme dalam tradisi Hindu.
Sehingga secara kronologis, kepercayaan Dravida dimulai dari animisme dan kepercayaan keibuan, kemudian berakulturasi dengan kepercayaan politeisme Arya hingga membentuk yang dikenal sekarang sebagai Hindu. 

Arsitektur dan Seni visual 
1. Teks Mayamata adalah sebuah naskah kuno India yang membahas desain dan konstruksi arsitektur gaya Dravida, termasuk pembangunan kuil, bangunan tempat tinggal, dan kendaraan, serta teknik-teknik penyambungan kayu. Teks yang diperkirakan berasal dari abad ke-5 hingga ke-7 M ini disusun dalam bahasa Sansekerta dan berisi sekitar 3.300 ayat yang terbagi dalam 36 bab, dan 
2. Teks Manasara adalah sebuah karya klasik dalam tradisi Vaastu Shastra dan arsitektur India kuno, yang membahas prinsip-prinsip desain dan konstruksi bangunan dengan total 10.000 ayat. Teks ini mencakup berbagai aspek arsitektur, mulai dari perencanaan kota, desain rumah, istana, dan kuil, hingga detail seperti perabotan, kendaraan, dan ornamen. 
3. Teks Isanasivagurudeva paddhati adalah sebuah naskah dari abad ke-9 yang berisi pedoman seni membangun di wilayah India selatan dan tengah, memberikan panduan tentang seni arsitektur, konstruksi, dan praktik keagamaan yang terkait dengan gaya Dravida. 
Teks ini merupakan bagian dari tradisi Agama, kumpulan kitab suci non-Veda dalam bahasa Tamil dan Sansekerta yang mendokumentasikan metode pembangunan kuil, pembuatan patung (murti), dan aspek-aspek lain dari ritual dan filosofi Hindu. 
4. Selain arsitektur, terdapat pula Teks Brihat-samhita adalah sebuah ensiklopedia Sanskerta abad ke-6 Masehi yang ditulis oleh Varahamihira. Karya ini mencakup beragam topik, seperti astrologi, astronomi, arsitektur, gemologi (ilmu tentang batu permata), pertanian, dan bahkan pembuatan parfum. Brihat-samhita berisi sekitar 4000 syair dalam bahasa Sansekerta dan dianggap sebagai salah satu karya fundamental dalam astronomi India kuno atau Jyotisha. 

Kemunduran Bangsa Dravida
Para ahli paleoklimatologi percaya bahwa runtuhnya Peradaban Lembah Indus dan migrasi ke arah timur dan selatan, selama akhir periode Harappa disebabkan oleh perubahan iklim di wilayah tersebut, dengan faktor utama yaitu kekeringan selama 200 tahun. 
Peradaban Lembah Indus tampaknya perlahan-lahan kehilangan kohesi perkotaan, dan kota-kota mereka secara bertahap ditinggalkan selama akhir periode Harappa, diikuti oleh migrasi ke arah timur sebelum migrasi Indo-Arya ke anak benua India. 
Proses pengaruh pasca Harappa-Dravida di India Selatan secara tentatif disebut "Dravidaisasi",  dan tercermin dalam campuran pasca-Harappa antara orang-orang India Selatan, dengan peradaban lembah sungai Indus serta Leluhur Kuno.  
Namun, menurut Bhadriraju Krishnamurti, bahasa Dravida mungkin telah mencapai India Selatan sebelum migrasi Indo-Arya. 

Pembahasan kedua terkait dengan Bangsa Indo-arya. 

Bangsa Indo-Arya adalah kelompok orang yang bermigrasi ke anak benua India dari sekitar tahun 2000-1500 SM. Asal-usul mereka diyakini dari wilayah Asia Tengah dan mereka membawa bahasa, budaya, dan kepercayaan agama yang menjadi dasar peradaban India kuno dan perkembangan kitab Weda dan sistem kasta. Kedatangan mereka menandai perubahan besar dan kemunduran Peradaban Lembah Indus yang sudah ada sebelumnya. 
Bangsa Indo-Arya, adalah kumpulan beragam orang yang sebagian besar ditemukan di Asia Selatan , yang (secara tradisional) berbicara bahasa Indo-Arya .
Secara historis, Arya adalah bangsa Pastoral (atau: penggembala) yang berbicara bahasa Indo-Iran, bermigrasi dari Asia Tengah ke Asia Selatan, dan memperkenalkan bahasa Proto-Indo-Arya.
Bangsa Indo-Arya awal diketahui berhubungan dekat dengan kelompok Iran yang tinggal di sebelah barat Sungai Indus ; hubungan yang jelas dalam ikatan budaya, linguistik, dan sejarah. Saat ini, penutur Indo-Arya ditemukan di selatan Indus, melintasi wilayah modern Bangladesh , Nepal , Pakistan (sebelah timur Sungai Indus ), Sri Lanka , Maladewa , dan separuh utara India .
Bangsa Indo-Arya adalah bagian dari kelompok yang lebih besar, yaitu Indo-Iran, yang berasal dari wilayah Asia Tengah, dan dikenal sebagai Bangsa Proto-Indo-Iran.
Diidentifikasikan dengan budaya Sintashta, yang merupakan budaya arkeologi Zaman Perunggu Pertengahan di pegunungan Ural Selatan (2100–1800 SM), serta budaya Andronovo yang berkembang sekitar tahun 1800–1400 SM di stepa sekitar Laut Aral , Kazakhstan, Turkmenistan, dan Uzbekistan saat ini.
Bangsa Proto-Indo-Arya memisahkan diri sekitar tahun 1800–1600 SM dari bangsa Iran, bergerak ke selatan melalui Budaya Baktria-Margiana , selatan budaya Andronovo, meminjam beberapa kepercayaan dan praktik keagamaan khas dari Kawasan Arkeologis Baktria–Margiana, dan kemudian bermigrasi lebih jauh ke selatan ke Levant dan India barat laut.
Perlu dipahami bahwa, Agama awal bangsa Indo-Arya yang berasal dari Iran adalah agama Proto-Indo-Iran, yang memiliki konsep umum seperti Hṛta (yaitu: kekuatan universal), sawHma (yaitu: tanaman suci), dan dewa seperti Mitra yang melambangkan persahabatan, harmoni, dan penegak perjanjian dan dewa Bhaga, yang merupakan dewa kekayaan, kemakmuran, dan pernikahan dalam agama Weda (pelopor Hindu), yang bertugas memastikan setiap orang menerima bagiannya dalam hidup. Agama ini kemudian berkembang menjadi Zoroastrianisme di Iran.
Ketika bangsa Indo-Arya bermigrasi ke India, mereka membawa tradisi keagamaan ini yang kemudian berbaur dengan kepercayaan bangsa lokal (seperti Dravida) dan berkembang menjadi agama Weda, yang menjadi dasar agama Hindu. 
Bangsa Indo-Arya dipersatukan oleh norma-norma budaya dan bahasa yang sama, yang disebut sebagai aryā 'bangsawan'. Selama empat milenium terakhir, budaya Indo-Arya telah berkembang khususnya di dalam India sendiri.
Difusi budaya dan bahasa ini terjadi oleh sistem patron-klien, yang memungkinkan penyerapan dan akulturasi kelompok lain ke dalam budaya ini, dan menjelaskan pengaruh kuat pada budaya lain yang berinteraksi dengannya.
Secara genetik, sebagian besar populasi penutur Indo-Arya adalah keturunan campuran penggembala stepa Asia Tengah, pemburu-pengumpul Iran, dan, pada tingkat yang lebih rendah, pemburu-pengumpul Asia Selatan, pada umumnya dikenal sebagai Leluhur India Selatan Kuno.
Secara DNA, bangsa Indo-Arya merujuk pada penanda genetik yang diwariskan oleh kelompok manusia yang bermigrasi dari Stepa Pontik di Eurasia utara ke Asia Selatan dan wilayah lain.
Bukti DNA menunjukkan ada arus masuk populasi besar dari timur ke Eropa dan Asia Selatan sekitar 4.500 tahun yang lalu, membawa garis keturunan seperti haplogrup R1a1a. Kelompok ini yang membawa bahasa Indo-Arya dan secara genetik berbeda dengan populasi asli India Selatan. 
Selain itu, orang-orang yang berbahasa Austroasiatik dan Tibeto-Burma berkontribusi pada susunan genetik Asia Selatan. 
Aryaisme Pribumi menyebarkan gagasan bahwa bangsa Indo-Arya adalah penduduk asli anak benua India, dan dinyatakan bahwa bahasa-bahasa Indo-Eropa menyebar dari sana ke Asia Tengah dan Eropa.
Dukungan kontemporer untuk gagasan ini didorong oleh ideologi, dan tidak memiliki dasar data objektif dan kajian arus utama.


Komentar