Hipotesis Anatolia | Hipotesis Penutur Bahasa Proto Indo-Eropa berasal dari Anatolia oleh Colin Renfrew
Teori ini merupakan saingan utama bagi Teori Kurgan atau sering disebut juga Teori Stepa, yang mengusulkan asal-usul bahasa Indo-Eropa dari wilayah stepa Pontus-Kaspia.
Untuk lebih memahami seperti apa konsep dari Teori Anatolia ini terhadap perkembangan Proto Indo-eropa, mari kita simak bersama, masih di Humaniora.
Teori Anatolia atau Hipotesis Anatolia pertama kali diusulkan oleh arkeolog Inggris, bernama Colin Renfrew. Dia mempublikasikan hipotesisnya pada tahun 1987 dalam bukunya yang berjudul, "Archaeology and Language: The Puzzle of Indo-European Origins".
Ada beberapa poin utama dalam Hipotesis Renfrew ini, yaitu:
1. Bahasa Proto Indo-Eropa, berasal dari Anatolia..
2. Penyebaran bahasa tersebut terkait erat dengan ekspansi pertanian selama Revolusi Neolitikum, dimulai sekitar milenium ke-7 dan ke-6 SM.
3. Para petani Neolitik bermigrasi dari Anatolia ke Eropa dan wilayah lainnya, membawa serta bahasa mereka yang kemudian terdiversifikasi menjadi berbagai bahasa Indo-Eropa.
Teori Renfrew ini mendapatkan dukungan dari beberapa ilmuwan, diantaranya Russell D. Gray dan Quentin D. Atkinson. Melalui studi linguistik dan analisis divergensi pohon bahasa, mereka mendukung dan memperkuat argumen Renfrew dengan bukti statistik dan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal terkemuka.
Untuk lebih mendalami hipotesis ini, mari kita simak pembahasan berikut, yang kita awali dari letak geografi nya.
Anatolia, juga dikenal sebagai Asia Kecil, adalah sebuah semenanjung besar yang terletak di Asia Barat dan membentuk sebagian besar wilayah negara Turki modern. Secara geografis, wilayah ini berfungsi sebagai jembatan darat yang menghubungkan benua Asia dan Eropa, dipisahkan oleh Laut Marmara , Selat Bosporus , dan selat Dardanella .
Secara spesifik, Anatolia memiliki batas-batas geografis sebagai berikut:
1. Batas Utara: Berbatasan dengan Laut Hitam.
2. Batas Barat: Berbatasan dengan Laut Aegea.
3. Batas Selatan: Berbatasan dengan Laut Mediterania (Laut Tengah).
4. Batas Timur: Berbatasan dengan negara-negara seperti Armenia, Iran, Irak, Georgia, dan Suriah.
Bentang alam Anatolia didominasi oleh dataran tinggi, karena sebagian besar wilayah tengah, dengan ketinggian yang bervariasi antara 600 hingga 1.200 meter.
Dataran tinggi Anatolia relatif kering. Wilayah ini dikelilingi oleh pegunungan, termasuk Pegunungan Taurus di selatan. Dataran rendah jarang ditemukan dan umumnya berada di sepanjang jalur pantai yang sempit serta di sekitar danau pedalaman seperti Danau Tuz.
Berikutnya, terkait Kebudayaan periode Neolithikum di Anatolia.
Keberadaan kebudayaan di Anatolia, didasarkan atas temuan beberapa situs, yang akan diuraikan sebagaimana berikut:
1. Kebudayaan di Göbekli Tepe
Budaya di Göbekli Tepe adalah peradaban pemburu-pengumpul dari Zaman Neolitikum Pra-Tembikar yang membangun struktur monumental religius sekitar sekitar milenium ke-10 hingga ke-9 SM. Budaya ini ditandai dengan pembangunan kuil-kuil melingkar dengan pilar-pilar batu berbentuk T raksasa yang dihiasi ukiran hewan dan simbol.
Situs ini menunjukkan adanya kemampuan arsitektur dan simbolisme yang kompleks jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya, menantang gagasan bahwa pertanian harus ada sebelum pembangunan monument.
Peneliti utama budaya Göbekli Tepe adalah arkeolog Jerman, bernama Klaus Schmidt. Dia memimpin penggalian awal yang memulai penggalian pada tahun 1995. dan menganggap situs itu sebagai kuil tertua di dunia.
Klaus Schmidt berteori bahwa Göbekli Tepe adalah pusat ritual yang digunakan oleh pemburu-pengumpul untuk berkumpul, membangun, dan mengadakan pesta.
Setelah meninggalnya Klaus Schmidt, proyek tersebut dilanjutkan oleh tim dari berbagai institusi, termasuk peneliti Turki, Necmi Karul dan tim dari Institut Arkeologi Jerman yang berkolaborasi dengan Lee Clare.
2. Kebudayaan di Çatalhöyük;
Budaya Çatalhöyük adalah peradaban Neolitikum kuno di Turki yang ditandai dengan rumah-rumah yang saling menempel tanpa jalan, praktik pertanian dan peternakan, serta seni dan ritual yang kompleks. Masyarakatnya dianggap relatif egaliter dengan pembagian kerja, meskipun tidak sepenuhnya egaliter. Mereka juga menguburkan orang meninggal di bawah lantai rumah, yang dihiasi dengan lukisan dinding, patung, dan tengkorak hewan.
Ada beberapa peneliti terkait situs ini, diantaranya adalah James Mellaart, yang merupakan seorang arkeolog yang pertama kali menemukan dan memimpin penggalian awal di Çatalhöyük pada awal tahun 1960-an. Penemuannya mengungkap pemukiman besar dengan budaya material yang canggih, termasuk lukisan dinding dan patung-patung, yang menantang pandangan saat itu tentang masyarakat Neolitik awal.
Kemudian adalah Ian Hodder. Setelah jeda dalam penelitian karena kontroversi terkait Mellaart, Hodder memulai kembali proyek penelitian jangka panjang di situs tersebut pada tahun 1990-an. Di bawah kepemimpinannya, proyek ini dikenal karena pendekatan multidisipliner dan fokusnya pada arkeologi prosesual dan interpretasi data secara terbuka.
3. Kebudayaan di Çayönü;
Çayönü adalah sebuah situs arkeologi Neolitikum di Turki Tenggara, dekat kota modern Diyarbakır, di kaki Pegunungan Taurus, dekat sungai Boğazçay dan sungai Bestakot.
Situs ini terkenal karena bukti penting mengenai transisi manusia dari gaya hidup berburu-mengumpulkan menjadi masyarakat yang menetap dan bertani, dan menunjukkan domestikasi hewan dan tanaman awal.
Situs ini dihuni sekitar 7200 hingga 6600 SM dan telah mengungkapkan arsitektur kuno seperti rumah berlantai batu dan struktur "grill-plan" yang unik.
Penelitian budaya di situs arkeologi Çayönü, Turki, sebagian besar dilakukan di bawah arahan tim gabungan yang dipimpin oleh para arkeolog terkemuka, antara lain:
1) Robert Braidwood: Seorang pakar Timur Dekat dari Universitas Chicago, yang memimpin penggalian dari tahun 1964 hingga 1991.
2) Halet Çambel: Seorang profesor dan arkeolog Turki terkemuka, yang juga terlibat aktif dalam proyek jangka panjang tersebut.
3) Mehmet Özdoğan: Profesor dari Universitas Istanbul, yang turut memimpin tim penelitian selama periode yang sama.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian di Çayönü juga melibatkan para ahli lain, seperti Profesor Aslı Erim Özdoğan, yang menyoroti pentingnya situs ini dalam konteks sejarah munculnya budidaya tanaman paling awal dan penemuan signifikan lainnya, seperti struktur bangunan publik berusia 9.500 tahun.
4. Kebudayaan di Aşıklı Höyük;
Aşıklı Höyük adalah situs kuno, Terletak di wilayah Kapadokia, Turki, Aşıklı Höyük berada di dekat desa Kızılkaya di provinsi Aksaray, Turki.
Situs ini sangat penting untuk memahami budaya Neolitikum di Anatolia. Karena Situs ini merupakan tempat tinggal masyarakat yang telah menetap dan melakukan aktivitas pertanian serta peternakan, serta mengembangkan praktik sosial dan ritual yang kompleks.
Situs arkeologi Aşıklı Höyük di Turki tengah telah menjadi subjek penelitian oleh tim arkeolog internasional selama beberapa dekade. Salah satu nama peneliti kunci yang terkait dengan proyek ini adalah Mihriban Özbaşaran. Penelitian di Aşıklı Höyük melibatkan kolaborasi dari berbagai ahli dan institusi dari berbagai negara, termasuk geolog, paleozoologis, dan ahli biologi molekuler.
Peneliti lain yang terlibat dalam berbagai publikasi terkait situs ini termasuk Susan M. Mentzer, Melis Uzdurum, dan Jay Quade, yang berkolaborasi dalam analisis geoarkeologis material konstruksi.
5. Kebudayaan di Hacilar;
Kebudayaan Hacilar, yang ditemukan di situs dekat Burdur, Turki, adalah kebudayaan Neolitikum dan Kalkolitik yang terkenal dengan arsitektur rumah yang teratur, tembikar dekoratif, dan patung dewi.
Perumahan di Hacilar dibangun di atas fondasi batu dengan dinding bata lumpur atau tanah liat yang dilapisi plesteran, dicat merah, dan dipoles, menunjukkan adanya arsitektur yang disadari. Kebudayaan ini juga memiliki seni berupa tembikar yang dihias dengan desain geometris dan patung dewi yang sering dikaitkan dengan kucing.
Budaya Hacilar, merupakan sebuah pemukiman Neolitikum awal di Turki barat daya, sebagian besar diteliti melalui penggalian arkeologis yang dilakukan oleh arkeolog Inggris James Mellaart.
Penggalian Mellaart di situs Hacilar pada akhir 1950-an dan awal 1960-an mengungkap beberapa fase hunian, dengan periode paling awal berasal dari sekitar 7040 SM.
Penelitiannya memberikan wawasan penting mengenai kehidupan masyarakat Neolitikum awal, termasuk struktur desa mereka, praktik pertanian, dan produksi tembikar yang khas.
Terkait perkembangan masyarakat Anatolia,
Masyarakat Anatolia kuno berkembang dari berbagai budaya pra-sejarah yang diawali oleh bangsa Hattia. Setelah itu, diikuti oleh perkembangan budaya oleh beberapa bbangsa diantara nya: bangsa Het, bangsa Lidia, dan bangsa Frigia, yang ditandai dengan urbanisasi, perkembangan metalurgi perunggu, dan perdagangan skala besar.
Berikut kronologi perkembangan masyarakat Anatolia:
1. Zaman Neolitikum:
Zaman Neolitikum di Anatolia merupakan periode penting yang ditandai dengan transisi ke gaya hidup menetap, pertanian, dan domestikasi hewan, yang dipelopori oleh situs-situs seperti Çatalhöyük dan Göbeklitepe.
Dari Situs-situs tersebut, diketahui Terjadi pergeseran dari food gathering menjadi food producing melalui bercocok tanam dan beternak, dengan bukti penggembalaan domba dan kambing yang sudah ada sejak 12.000 tahun yang lalu di wilayah tersebut.
Selain itu, Situs Çatalhöyük yang terkenal dengan rumah-rumah bata lumpur yang saling berdempetan, dengan banyak struktur diidentifikasi sebagai kuil yang dihiasi lukisan dinding dan patung-patung.
Sedangkan situs Göbeklitepe, merupakan Situs monumental, yang dianggap sebagai salah satu struktur keagamaan tertua di dunia dan memberikan wawasan tentang perkembangan kepercayaan dan struktur sosial yang kompleks.
Hal ini menunjukkan bahwa Anatolia, merupakan masyarakat yang maju dengan pemukiman permanen, arsitektur canggih, seni dan kepercayaan yang kompleks, serta awal mula perkembangan budaya yang membentuk dasar peradaban di masa depan.
2. Zaman Perunggu:
Perkembangan zaman Perunggu di Anatolia terjadi beberapa tahap, yang akan diuraikan sebagaimana berikut:
1) Zaman Perunggu Awal (sekitar 5000-3000 SM):
Pada periode ini, Terjadi evolusi awal dalam teknologi metalurgi, dengan munculnya kemampuan melebur tembaga dan perunggu. Masyarakat Anatolia mulai membuat peralatan, senjata, dan perhiasan dari logam.
Perkembangan ini memungkinkan munculnya struktur sosial baru dan permukiman yang lebih besar.
Pada periode ini, mulai mengenal tanaman seperti anggur dan zaitun, yang juga menjadi pendorong ekonomi yang signifikan.
2) Zaman Perunggu Pertengahan (sekitar 2500–2000 SM):
Peradaban Hattian mulai berkembang, ditandai dengan munculnya Kekaisaran Het (sekitar 1600-1180 SM), yang beribu kota di Hattusa.
Budaya Hattian mempengaruhi budaya Minoan di Kreta, seperti yang dibuktikan oleh temuan arkeologis. Selain itu, Perdagangan dengan Asyur mulai berkembang pesat di Kültepe, ditandai dengan tembikar dan benda-benda kecil.
3) Zaman Perunggu Akhir (sekitar 1550–1200 SM):
Periode yang awalnya didominasi oleh Kekaisaran Het, mulai mengalami kemunduran. Pada periode ini, perdagangan dan hubungan internasional semakin intensif, yang berdampak negatif terhadap perkembangan Anatolia. Terlihat dari banyak situs di Anatolia, yang mengalami kehancuran pada akhir periode ini.
Setelah itu,
3. Zaman Besi:
Periode ini ditandai dengan penggunaan Besi secara lebih umum untuk berbagai benda, termasuk senjata dan peralatan atau perkakas., yang berlangsung sekitar abad ke 10 SM. Peleburan besi diyakini pertama kali ditemukan di Anatolia dan Balkan sekitar tahun 1300 SM, menandai dimulainya Zaman Besi.
Zaman Besi dimulai setelah runtuhnya Kekaisaran Het di akhir Zaman Perunggu, yang menyebabkan munculnya kekuatan-kekuatan regional yang lebih kecil.
Kekuatan-kekuatan baru meliputi bangsa Frigia di bagian tengah; bangsa Troad, Ionia, Lidia, Karia, dan Likia di bagian barat, serta bangsa Kimmeria dan Urartu di bagian timur laut. Dan Bangsa Asiria menduduki sebagian besar wilayah tenggara.
Pada periode ini, terjadi perubahan sosial dan budaya yang signifikan. Bukti arkeologis menunjukkan adanya perubahan populasi yang drastis pada awal Zaman Besi, termasuk migrasi bangsa Frigia dari Eropa Tenggara ke Anatolia.
Pada periode ini, Munculnya budaya baru yang ditandai dengan peralatan dan dekorasi tembikar yang berbeda, seperti yang ditemukan di situs Gordion.
Zaman Besi Awal di Anatolia dan Levant terkait dengan desentralisasi politik dan munculnya pemerintahan yang lebih kecil.
Pembahasan Berikutnya terkait Genetika.
Penelitian DNA ekstensif telah menunjukkan bahwa populasi kuno dan modern di Anatolia memainkan peran penting dalam membentuk lanskap genetik Eropa, namun dampaknya terhadap Asia lebih kompleks dan tidak langsung.
Dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan genetik yang signifikan antara masyarakat kuno Anatolia dengan populasi di Eropa, terutama Eropa Selatan, dan juga interaksi dengan populasi Asia, terutama di Asia Barat dan Tengah.
Berikut rincian utamanya:
1. Hubungan dengan Eropa;
Migrasi Neolitik: Studi DNA kuno telah mengidentifikasi bahwa petani Neolitik dari Anatolia melakukan migrasi besar-besaran ke Eropa sekitar 8.000 tahun yang lalu, menyebarkan praktik agrikultur dan berkontribusi secara signifikan pada kumpulan gen orang Eropa modern.
Komponen Genetik: Populasi Eropa, khususnya di wilayah Selatan seperti Sardinia, Yunani, dan Italia, memiliki persentase DNA petani Anatolia Neolitik yang tinggi.
Campuran Populasi: Populasi Eropa modern merupakan hasil percampuran dari tiga nenek moyang utama: Pemburu-Pengumpul Barat, petani Neolitik Anatolia, dan penggembala Yamnaya dari stepa Eurasia (yang juga memiliki kaitan dengan Asia Tengah/Barat).
2. Hubungan dengan Asia;
Asia Barat: Anatolia sendiri merupakan bagian dari Asia Barat (Asia Kecil), sehingga secara geografis dan genetik, hubungannya dengan populasi Timur Tengah (Levant, Mesopotamia) sangat erat.
Terdapat bukti migrasi Pra-Tembikar dan Tembikar Neolitik yang berbeda dari Mesopotamia ke Anatolia. Orang Siprus modern dan Lebanon secara genetik sangat dekat dengan sampel DNA Anatolia kuno dari Zaman Perunggu.
Asia Tengah: Populasi Turki modern memiliki jejak genetik dari populasi Asia Tengah dan Siberia, yang kemungkinan besar terkait dengan migrasi bangsa Turk (Oghuz) dari stepa Eurasia ke Anatolia pada periode selanjutnya dalam sejarah.
Hal ini membedakan mereka secara genetik dari penduduk asli Anatolia kuno dan populasi Eropa Selatan yang memiliki komponen Anatolia Neolitik yang lebih murni.
Secara keseluruhan, Anatolia berfungsi sebagai jembatan genetik antara Asia Barat dan Eropa, dengan populasi kuno Anatolia menjadi sumber genetik utama bagi Eropa Neolitik.
Penelitian DNA menunjukkan bahwa populasi Anatolia memiliki hubungan genetik yang kuat dan langsung dengan orang Eropa modern, terutama sebagai nenek moyang petani Neolitik, sementara hubungan mereka dengan Asia lebih beragam dan umumnya tidak langsung, melibatkan interaksi dengan populasi Asia Barat dan migrasi kompleks, yang melintasi daratan Eurasia.
Setelah itu, Berikutnya Terkait perkembangan Linguistik.
Penyebaran bahasa dari Anatolia (sekarang bagian dari Turki modern) ke Eropa dan Asia didukung oleh sejumlah bukti linguistik, terutama dalam konteks rumpun bahasa Indo-Eropa. Bukti-bukti utama yang mendukung hipotesis Anatolia (salah satu teori utama tentang asal usul bahasa Indo-Eropa) meliputi:
1. Analisis linguistik komparatif dan model pohon bahasa (phylogenetic models).
menunjukkan bahwa bahasa-bahasa Anatolia kuno, seperti bahasa Het (Hittite) yang tercatat dalam prasasti, adalah salah satu cabang pertama yang memisahkan diri dari bahasa Proto Indo-Eropa . Hal ini menunjukkan Anatolia sebagai wilayah inti tempat bahasa tersebut berada sebelum menyebar.
Beberapa tokoh kunci dalam penelitian awal bahasa Het dan klasifikasinya meliputi:
Bedřich Hrozný: Linguis Ceko yang pada tahun 1917 berhasil menguraikan bahasa Het dan menunjukkan bahwa bahasa tersebut adalah bahasa Indo-Eropa. Penemuannya ini merupakan tonggak sejarah penting yang membuka jalan bagi studi bahasa-bahasa Anatolia secara lebih luas.
Edgar H. Sturtevant: Linguis Amerika yang kemudian mengembangkan studi tentang bahasa Het dan menerbitkan tata bahasa perbandingan bahasa Het. Ia adalah salah satu peneliti yang memantapkan posisi bahasa Het dalam cabang Anatolia dari rumpun bahasa Indo-Eropa.
Johannes Friedrich: merupakan Peneliti lain yang memberikan kontribusi signifikan dalam studi bahasa-bahasa Anatolia, termasuk bahasa Het.
2. Hipotesis Anatolia mengaitkan penyebaran bahasa Indo-Eropa dengan Revolusi Neolitik, di mana pertanian menyebar dari Anatolia ke Eropa dan wilayah lain sekitar 8.000-9.500 tahun SM. Kesamaan kosakata terkait pertanian (misalnya, nama tanaman atau hewan ternak) di berbagai bahasa Indo-Eropa, yang mendukung gagasan migrasi petani dari Anatolia.
Berikut adalah beberapa contoh kesamaan kosakata (leksikon) terkait pertanian yang umum ditemukan dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa, yang direkonstruksi dari akar kata Proto Indo-Eropa:
Terkait Istilah hewan:
1) Sapi: menggunakan Akar kata Proto Indo-Eropa yang direkonstruksi adalah "*gʷōw-". Kata ini memiliki turunan yang mirip di banyak bahasa Indo-Eropa:
- dalam bahasa Inggris: dikatakan "cow"
- dalam bahasa Jerman: dikatakan "Kuh"
- dalam bahasa Sanskerta: dikatakan "gau",
- dalam bahasa Yunani Kuno: dikatakan "bous",
- dalam bahasa Latin: dikatakan "bos".
2) Domba: berakar kata Proto Indo-Eropa yang direkonstruksi adalah "*howi-".
- dalam bahasa Inggris: dikatakan "ewe".
- dalam bahasa Latin: dikatakan "ovis".
- dalam bahasa Lithuania: dikatakan "avis".
- dalam bahasa Sanskerta: dikatakan "avi".
- dalam bahasa Yunani Kuno: dikatakan "ois".
Terkait Istilah pertanian:
1. Gandum atau Biji-bijian: berakar kata Proto Indo-Eropa yang direkonstruksi adalah kata "*ǵhers-" atau sejenisnya, berkaitan dengan panen atau jelai. Meskipun tidak semirip nama hewan, konsep biji-bijian pokok memiliki padanan kuno.
Kata untuk "jelai" (Atau barley) atau "sereal" memiliki kemiripan di beberapa bahasa kuno yang menunjukkan pengetahuan bersama tentang tanaman pangan ini.
2. Membajak: berakar kata Proto Indo-Eropa yang direkonstruksi adalah "*herh- ", (membajak) atau *yewg- (memasang atau menggabungkan).
- dalam bahasa Inggris kuno: dikatakan "ear",
- dalam bahasa Yunani Kuno: dikatakan "aroo",
- dalam bahasa Latin: dikatakan "arare".
Kata "yewg-", berhubungan dengan "kuk" (yoke dalam Inggris, jugum dalam Latin) yang digunakan untuk memasang hewan ke alat bajak.
Kemiripan leksikon ini menunjukkan bahwa penutur Proto Indo-Eropa sudah memiliki perbendaharaan kata yang kaya terkait pertanian, yang sejalan dengan gagasan bahwa mereka adalah bagian dari gelombang migrasi petani Neolitik yang berasal dari Anatolia, tempat pertanian pertama kali berkembang.
Komentar
Posting Komentar