Hipotesis Kurgan | Asal-usul Penutur Bangsa Proto Indo-eropa, oleh Marija Gimbutas

Teori Kurgan, atau dikenal pula dengan hipotesis Kurgan, adalah sebuah teori tentang asal-usul bahasa Proto-Indo-Eropa. Teori ini, diperkenalkan oleh seorang arkeolog Wanita Amerika, kelahiran Lithuania, bernama Marija Gimbutas (1921–1994).
Teori Kurgan menyatakan bahwa penutur bahasa tersebut berasal dari budaya stepa Pontik-Kaspia (sekarang sebagian besar di Ukraina dan Rusia selatan) dan menyebar ke seluruh Eropa serta sebagian Asia melalui migrasi yang didukung oleh penjinakan kuda dan penggunaan gerobak kuda (atau dalam Inggris disebut wagon).
Teori Kurgan merupakan pesaing utama dari Teori Anatolia, yang menyatakan bahwa penutur bahasa Proto-Indo-Eropa berasal dari wilayah Anatolia (Asia Kecil) pada masa Neolitikum, dan penyebarannya ke seluruh Eropa terkait dengan penyebaran pertanian.

Untuk lebih memahami seperti apa konsep dari Teori Kurgan ini terhadap perkembangan Proto Indo-eropa, mari kita simak bersama, masih di Humaniora...

Secara umum, Kurgan adalah sejenis tumulus (atau: gundukan makam) yang dibangun di atas makam, sering kali ditandai dengan menampung satu jenazah manusia beserta bejana makam, senjata, dan kuda,, yang awalnya diperkirakan digunakan di stepa (atau: padang rumput) dikawasan Pontik–Kaspia.
Kurgan paling awal diperkirakan berasal dari milenium keempat SM di Kaukasus.
Istilah Kurgan, Menurut kamus bahasa Ukraina, dari kata "kurhan" dipinjam langsung dari bahasa Kipchak , bagian dari bahasa Turki , yang berarti: benteng, tanggul, kuburan tinggi..
Kata benda Rusia, yang telah dibuktikan dalam bahasa Slavia Timur Kuno , berasal dari bahasa Turki yang tidak teridentifikasi.  Kata Kurgan, merujuk pada gundukan tanah dan batu yang ditinggikan di atas satu atau beberapa makam. Dipopulerkan penggunaannya dalam arkeologi Soviet , dan kata ini sekarang banyak digunakan untuk tumulus (atau: gundukan tanah) dalam konteks arkeologi Eropa Timur dan Asia Tengah.
Terdapat kronologi penting, hingga Marija Gimbutas menyajikan Teori Kurgan, untuk menyempurnakan teori-teori yang lain, berikut uraian nya:
1. Teori Kurgan, yang dikenal juga dengan Teori Stepa, pertama kali dirumuskan oleh Otto Schrader tahun 1883, yang awalnya, mendukung tesis seorang sejarawan budaya dan pustakawan Jerman-Baltik, yang bernama Victor Hehn ( 1813-1890). Tesis nya menyatakan bahwa orang Indo-Eropa pada awalnya adalah nomaden. Mereka hanya menjinakkan kuda, yang mereka makan. Schrader berasumsi bahwa tanah air asli orang Indo-Eropa adalah di stepa utara Laut Hitam, di Laut Kaspia, dan di Laut Aral, suatu wilayah yang disebut sebagai stepa Pontic-Kaspia , tempat kuda liar merupakan spesies asli.
2. Vere Gordon Childe, dalam bukunya yang berpengaruh, " The Dawn of European Civilization", yang diterbitkan sekitar tahun 1925, berfokus pada pendekatan difusionis untuk menjelaskan penyebaran inovasi budaya (seperti pertanian dan metalurgi) dari Timur Dekat ke Eropa prasejarah. 
Childe adalah salah satu arkeolog pertama yang mencoba mengidentifikasi tanah air Proto Indo-Eropa, atau setidaknya melacak pergerakan orang-orang yang mungkin menyebarkan bahasa-bahasa Indo-Eropa ke Eropa. Dia mengusulkan bahwa pengaruh budaya menyebar dari Timur Dekat ke Eropa.
3. Kemudian  pada tahun 1950-an oleh Marija Gimbutas, hipotesis-hipotesis tersebut disistematisasi, dengan menggunakan istilah "Hipotesis Kurgan", untuk mengelompokkan berbagai budaya prasejarah, termasuk budaya Yamnaya (atau Kuburan Lubang) dan para pendahulunya.
4. Pada tahun 2000-an, David Anthony justru menggunakan inti budaya Yamnaya dan menghubungkannya dengan budaya lain sebagai titik acuan.

Sedangkan Budaya yang dianggap Gimbutas sebagai bagian dari "budaya Kurgan", merujuk diantaranya, yang akan diuraikan sebagaimana berikut:
1. Kebudayaan Bug–Dniester (milenium ke-6)
Kebudayaan Bug-Dniester adalah budaya arkeologis Neolitik yang berkembang sekitar 6200–5500 SM, di wilayah tepi Sungai Bug Selatan dan Dniester, di sebelah utara Laut Hitam, di tempat yang sekarang menjadi bagian dari Ukraina modern dan Moldova. 
Kebudayaan ini dikenal sebagai masyarakat pemburu-pengumpul yang mulai mengadopsi beberapa elemen pertanian dari budaya Neolitik yang lebih maju di sekitarnya, meskipun perburuan tetap menjadi sumber subsisten utama mereka.
Ada bukti awal kontak dengan budaya agrikultur dari Balkan, seperti Budaya Starčevo, Budaya Körös dan Budaya Criş, yang memperkenalkan ternak domestik seperti sapi dan domba/kambing, serta tembikar.
2. kebudayaan Samara (sekitar milenium ke-5 SM)
Budaya Samara adalah budaya Eneolitikum (Zaman Tembaga), yang berkembang di Mesopotamia bagian utara, di Bendungan Samara di Sungai Volga (Rusia modern), sekitar milenium ke-5 SM, atau sekitar 5500-4800 SM.
Ciri utama kebudayaan ini adalah tembikar hias dengan pola geometris dan gambar hewan atau manusia, serta pengenalan pertanian irigasi untuk menanam gandum dan jelai. Budaya ini memiliki pengaruh signifikan terhadap budaya Ubaid yang muncul setelahnya. Hal ini terlihat pada situs Tell es-Sawwan, yang menunjukkan bukti pertanian dan pemukiman maju.
Kebudayaan Samara didahului oleh kebudayaan Volga Tengah yang berkembang pada milenium ke-6 SM, dan dianggap terkait dengan budaya prasejarah kontemporer atau selanjutnya di stepa Pontic–Kaspia, seperti budaya Khvalynsk, budaya Repin, dan budaya Yamna (atau Yamnaya).
3. Kebudayaan Khvalynsk (sekitar milenium ke-5 SM)
Kebudayaan Khvalynsk adalah kebudayaan arkeologis Zaman Tembaga Tengah (Eneolitikum) yang berkembang sekitar sekitar 4.900–3.500 SM, di wilayah stepa Volga tengah, Rusia.
Kebudayaan ini didahului oleh kebudayaan Samara dan diikuti, serta mempengaruhi kebudayaan lain di sekitarnya, seperti kebudayaan Sredny Stog dan kebudayaan Yamnaya. 
Perkembangan budaya ini berawal dari stepa Volga tengah dan meluas ke stepa Pontik-Kaspia.
Ciri khas utama kebudayaan ini adalah situs pemakamannya yang luas (kurgannya). Kuburan individu atau kelompok sering kali ditutupi oleh gundukan tanah (kurgan) kecil dan berisi persembahan kubur seperti tembikar, perkakas batu, dan terkadang perhiasan.
Dan dari salah satu situs kuburan di kota Khvalynsk, yaitu Oblast Saratov, Nama kebudayaan ini diambil.
Kebudayaan Khvalynsk ini, dianggap penting dalam hipotesis Kurgan yang dikemukakan oleh Marija Gimbutas, yang mengaitkannya dengan orang-orang Proto-Indo-Eropa awal dan penyebaran bahasa Indo-Eropa di Eurasia.
4. Kebudayaan Dnieper–Donets (swkitar milenium 5-4 SM)
Kebudayaan Dnieper–Donets adalah kebudayaan arkeologis Mesolitik dan Neolitik yang berkembang di wilayah utara Laut Hitam, antara Sungai Dnieper dan Sungai Donets, di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Ukraina dan Rusia, kira-kira dari milenium ke-5 hingga ke-4 SM (sekitar 5000–4200 SM).
Pada awalnya, masyarakat kebudayaan Dnieper–Donets adalah pemburu-pengumpul (jäger-samlare) yang sangat bergantung pada perburuan (binatang seperti auroch, rusa merah, babi hutan) dan penangkapan ikan.
Sekitar 5200 SM, mereka mulai memelihara hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing. Hewan domestik lainnya termasuk babi, kuda, dan anjing.
Beberapa ahli menduga mereka mulai bertani sekitar 4200 SM, menanam jewawut, gandum, dan kacang polong, meskipun bukti sistematis untuk pertanian skala luas masih terbatas.
Tidak banyak rumah yang ditemukan, tetapi beberapa gubuk semi-bawah tanah yang ditutupi kulit kayu pohon telah diidentifikasi di situs-situs pemukiman mereka.
Praktik penguburan sering kali melibatkan penempatan perkakas di samping jenazah. Dari temuan tersebut, dapat disimpulkan, bahwa mereka menggunakan perkakas batu yang mirip dengan zaman Batu Tengah (Mesolitik). Kemudian, mereka mulai menggunakan kapak batu yang dipoles dan perkakas api. Perlu diketahui bahwa Tembikar awal mereka memiliki dasar runcing.
Dalam konteks Hipotesis Kurgan, beberapa ahli seperti J.P. Mallory mengemukakan bahwa masyarakat Dnieper–Donets mungkin adalah penutur bahasa pra-Indo-Eropa yang kemudian berasimilasi dengan penutur Proto-Indo-Eropa yang meluas ke arah barat dari stepa yang lebih timur.
5. kebudayaan Sredny Stog (Sekitar 4500-3500 SM)
Kebudayaan ini adalah kebudayaan arkeologis pra-Kurgan dari zaman Eneolitikum (Zaman Tembaga) yang berkembang di wilayah aliran sungai Dnieper tengah dan hilir di stepa Pontus-Kaspia (sekarang Ukraina dan Rusia bagian selatan), dari Sekitar 4500-3500 SM.
Kebudayaan ini sering dikaitkan dengan tahap awal ekspansi Proto-Indo-Eropa, sebagaimana diusulkan dalam Hipotesis Kurgan oleh Marija Gimbutas. Budaya ini dianggap sebagai salah satu kandidat kuat untuk "tanah air" (Urheimat) asli bangsa Proto-Indo-Eropa.
Gaya hidup mereka sebagian besar berbasis pada penggembalaan ternak (pastoralisme), meskipun ada juga beberapa aktivitas pertanian subsisten.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa kuda mulai didomestikasi dan digunakan secara signifikan dalam kebudayaan ini, yang merupakan perkembangan penting dalam mobilitas dan gaya hidup pastoral nomaden di stepa.
Praktik penguburan khas melibatkan pemakaman individu di lubang dangkal, seringkali ditutupi dengan gundukan kecil (kurgan awal), dan kadang-kadang disertai dengan persembahan barang kubur.
Tembikar yang ditemukan di situs-situs Sredny Stog sering kali memiliki dasar runcing atau bulat, berbeda dari tembikar kebudayaan Neolitik Eropa lainnya yang umumnya berdasar datar. Artefak lain termasuk alat-alat batu api, tulang, dan tembaga.
6. Kebudayaan Maykop (Sekitar 3700–3000 SM)
Kebudayaan ini adalah budaya arkeologi Zaman Perunggu utama di wilayah Kaukasus Barat, Rusia Selatan, yang membentang dari Semenanjung Taman di Selat Kerch hingga dekat perbatasan modern Dagestan dan ke selatan hingga Sungai Kura .
Kebudayaan Maykop, dikenal karena kemajuan awal dalam metalurgi (termasuk perunggu arsenikal tertua yang diketahui).
Selain itu, kebudayaan ini dikenal dengan praktik penguburan kurgan (gundukan makam), yang dapat dilihat dipemakaman kerajaan, kurgan Maykop, di lembah Sungai Kuban. Pemakaman yang kaya dengan artefak emas, perak, dan perunggu yang indah.
Selain itu, Kebudayaan Maykop memiliki hubungan dagang dan pengaruh yang kuat dari Timur Dekat kuno (seperti budaya Uruk dan Ubaid di Mesopotamia). 
7. Kebudayaan Deriivka (4500–3500 SM.)
Kebudayaan ini berkembang di kawasan situs di desa Deriivka, Oblast Kirovohrad, Ukraina, di tepi kanan Sungai Dnieper, Sekitar 4500–3500 SM.
Situs ini terkait dengan kebudayaan Sredny Stog yang lebih luas dan terkenal karena menjadi lokasi potensial domestikasi kuda paling awal (meskipun penanggalan radiokarbon kemudian menunjukkan bahwa penguburan kuda yang terkenal itu berasal dari periode yang jauh lebih baru, sekitar 700–200 SM).
Mata pencaharian utamanya adalah penggembalaan ternak (sapi, domba, kambing) dan perburuan.
8. Kebudayaan Yamnaya-Kuburan Lubang (sekitar 3300–2600 SM) 
Kebudayaan "Kuburan Lubang" (Atau Pit Grave), adalah kebudayaan Zaman Tembaga, atau awal Zaman Perunggu, yang berkembang dari tahun 3500-2300 SM di wilayah Stepa Pontik-Kaspia (sekarang Ukraina dan Rusia).
Ciri utama budaya Yamnaya adalah praktik penguburan di lubang yang kemudian ditutupi gundukan tanah (atau: kurgan), seringkali dilapisi material oker merah, dan di atasnya dibangun kurgan. Selain itu, dari beberapa pemakaman menunjukkan adanya hierarki sosial dan kepemimpinan yang kuat. Makam para pemimpin sering disertai senjata dan persembahan.
Kebudayaan ini sering dikaitkan dengan penutur Proto-Indo-Eropa dan Dianggap sebagai salah satu kelompok pertama yang menguasai berkuda dan menggunakan kereta beroda, yang memberi mereka keuntungan dalam perjalanan jarak jauh.
Masyarakat Kebudayaan Yamnaya, berbasis pada peternakan hewan, dengan gaya hidup nomaden, serta didukung oleh perikanan dan perburuan.
Diakhir periode, masyarakat budaya Yamnaya melakukan migrasi besar-besaran ke Eropa dan Asia Tengah, yang mempengaruhi populasi dan budaya di sana.
Budaya ini berinteraksi dan mempengaruhi budaya-budaya lain seperti budaya Corded Ware, budaya Bell Beaker, budaya Sintashta, dan budaya Andronovo.
Dalam Studi genetik menunjukkan bahwa banyak populasi modern di Eropa dan Asia Tengah memiliki keturunan dari budaya Yamnaya. 
9. Kebudayaan Usatove (akhir milenium ke-4 SM);
Merupakan kebudayaan Zaman Perunggu awal yang berkembang pada akhir milenium ke-4 SM, terkait erat dengan budaya Sredny Stog dan budaya Maykop, dan sering dikategorikan sebagai bagian dari tahap Kurgan II-III dalam Hipotesis Kurgan yang diajukan oleh Marija Gimbutas.
Budaya Usatove Tersebar di wilayah stepa dari sekitar Dnieper hingga Kaukasus utara, termasuk wilayah Rumania saat ini.
Selain itu, Budaya Usatove sering dilihat sebagai budaya transisional yang menggabungkan tradisi petani Trypillia (Eropa Lama) dengan tradisi penggembala Sredny Stog. Ini menghasilkan entitas arkeologis yang berbeda dengan ciri khas tersendiri, termasuk jenis keramik tertentu yang menunjukkan pengaruh campuran.
Budaya stepa Pontik-Kaspia secara luas diyakini sebagai tanah air asli (Urheimat) penutur bahasa Proto-Indo-Eropa. Keterkaitan budaya Usatove dengan kelompok stepa ini mengimplikasikan peran mereka dalam penyebaran awal bahasa-bahasa Indo-Eropa ke wilayah Eropa Tenggara dan sekitarnya.
Usatove yang berada di persimpangan antara stepa dan wilayah Eropa Neolitik/Eneolitik (seperti budaya Cucuteni-Trypillia) menjadikannya pusat interaksi. Terjadi pertukaran artefak, teknologi, dan ideologi, di mana elemen-elemen budaya material stepa menyebar ke arah barat.

Genetika
Studi genetik DNA purba mengidentifikasi kelompok Kaukasus-Volga Bawah sebagai leluhur utama dari populasi Proto-Indo-Eropa di stepa Eurasia, sekitar 6.500 tahun yang lalu. Kelompok ini kemudian bermigrasi ke Eropa melalui budaya Yamnaya dan menyebarkan bahasa-bahasa Indo-Eropa. 
Studi DNA purba pada kerangka dari Eropa dan Rusia mengindikasikan gelombang migrasi besar-besaran dari budaya Yamnaya di Stepa Pontik–Kaspia sekitar 4.500 tahun lalu.
Analisis DNA purba pada 777 genom kuno mengidentifikasi kelompok Kaukasus-Volga Bawah di Rusia selatan sebagai populasi awal yang menyumbang leluhur utama dari penutur Proto-Indo-Eropa.
DNA orang Eropa pada Zaman Tembaga ternyata cocok dengan DNA orang Yamnaya, yang menyiratkan bahwa migrasi besar-besaran ini membawa bentuk awal bahasa Indo-Eropa ke Eropa Timur.
Budaya Yamnaya memainkan peran kunci dalam penyebaran bahasa ini ke berbagai wilayah. Berikut beberapa kontribusi genetik masyarakat budaya Yamnaya pada populasi modern:
1. Eropa Tengah dan Utara: DNA Yamnaya menyumbang persentase yang tinggi, hingga sekitar 50,4% pada beberapa populasi.
2. Eropa Selatan: Kontribusi ditemukan dalam kadar yang lebih rendah dibandingkan Eropa Utara, sekitar 18,5% hingga 32,6%.
3. Populasi spesifik: Orang-orang seperti Sardinia (sekitar 2,4%  hingga 7,1%) dan Sisilia (sekitar 5,9%5 hingga 11,6%) juga memiliki jejak DNA Yamnaya, meskipun dalam kadar yang lebih kecil. 
Suku bangsa Yamnaya merupakan pembawa utama komponen genetik "Eurasia Utara Kuno", yang berasal dari populasi yang terkait dengan budaya Mal'ta-Buret', dan mulai muncul di Eropa sekitar 4.500 tahun lalu.
Migrasi mereka yang luas dari wilayah sekitar Laut Hitam menyebarkan materi genetik, budaya (seperti keterampilan bertani dan sosial), serta dasar linguistik bahasa Indo-Eropa ke berbagai wilayah di Eropa hingga ke Asia.

Periodesasi
Periodisasi budaya Kurgan, yang terkait erat dengan hipotesis tentang penyebaran bahasa Proto-Indo-Eropa, terjadi selama periode Neolitikum Akhir hingga Zaman Perunggu. 
Secara kronologis, budaya Kurgan berlangsung dari sekitar milenium ke-5 SM hingga milenium ke-3 SM, dengan pengaruhnya yang meluas selama Zaman Perunggu di berbagai wilayah.
Periodisasi yang diajukan oleh arkeolog Marija Gimbutas, dibagi menjadi beberapa tahap utama, yang akan diuraikan sebagaimana berikut:
1. Periode Kurgan I (Milenium ke-5 SM):
Periode Kurgan I, yang berlangsung sekitar 5000–4000 SM, menandai fase awal budaya Kurgan yang tersebar luas di stepa Pontus-Kaspia, yaitu wilayah timur Sungai Don hingga antara Volga Tengah, Pegunungan Kaukasus, dan Pegunungan Ural.
Budaya-budaya pendahulu di wilayah stepa Pontik-Kaspia yang menjadi dasar bagi perkembangan budaya Kurgan I. yang tampaknya berkembang dari budaya-budaya di cekungan Volga, dengan subkelompok seperti budaya Samara dan budaya Khvalynsk. 
Setelah itu, berkembang di wilayah sungai Dnieper-sungai Volga, pada paruh awal milenium ke-4 SM, berevolusi dari budaya-budaya sebelumnya seperti Budaya Samara. 
Periode ini, merupakan awal domestikasi kuda, yang merupakan aspek sentral dari budaya ini. Analisis tulang hewan yang ditemukan di pemukiman awal, seperti di Dereivka dekat Sungai Dnieper, menunjukkan bahwa tulang kuda menyusun persentase tertinggi dari sisa-sisa hewan domestik (sekitar 68%),, yang mengindikasikan peran penting kuda untuk makanan dan kemungkinan transportasi.
Selain itu, Temuan artefak, perkakas, dan senjata yang hampir identik di situs-situs yang terpisah ribuan kilometer menunjukkan tingkat mobilitas yang luar biasa di antara kelompok suku pada masa itu. Hal ini terkait erat dengan penggunaan kuda.
Walaupun ada temuan pemukiman, ada jejak pemukiman di atas bukit pasir (atau: dunes), akan tetapi Tidak diketahui adanya pemukiman Kurgan pada periode pertama yang bersifat permanen dan tahan lama.
Perkakas dan ornamen pada periode ini, terbuat dari tanduk rusa, tulang sapi, dan taring babi. Alat-alat khas termasuk cangkul-palu (hammer-hoe) dari tanduk rusa, Mata panah terbuat dari batu api yang digunakan untuk berburu dan berperang.
Terkait dengan situs pemakaman, terutama yang sangat kuno, seperti pemakaman Varna (yang merupakan varian lokal dari budaya Kalkolitik yang terkait dengan wilayah yang lebih luas), menunjukkan keberadaan makam yang berasal sekitar 4569–4340 SM.
Ciri-ciri pemakaman budaya Kurgan pertama secara umum meliputi:
- Gundukan Makam (Kurgan): Pembangunan gundukan tanah yang monumental di atas kuburan, yang berfungsi sebagai penanda makam penting, dan beberapa ditutupi dengan timbunan batu (cairn),
- Sisa-sisa Manusia dan Artefak: Gundukan tersebut berisi sisa-sisa manusia dan sering kali disertai dengan artefak, yang menunjukkan kepercayaan pada kehidupan setelah kematian atau status sosial individu yang dimakamkan.
- Penempatan Jenazah: Meskipun lebih sering dikaitkan dengan periode Kurgan selanjutnya, penempatan jenazah sering kali dalam posisi tertentu (misalnya, berbaring telentang dengan lutut ditekuk atau miring) di dalam lubang kubur di bawah gundukan.
2. Periode Kurgan II dan III (Milenium ke-4 SM):
Periode Kurgan ini, termasuk dalam fase ekspansi budaya Kurgan di paruh kedua milenium ke-4 SM.
Periode ini mencakup beberapa budaya arkeologis, yang paling utama adalah budaya Sredny Stog di stepa Pontik dan budaya Maikop (Maykop) di wilayah Kaukasus utara, dan Wilayah geografis utamanya meliputi area sungai Dnieper - sungai Volga dan meluas hingga Kaukasus utara.
Masyarakatnya merupakan penggembala nomaden yang terorganisir dalam struktur sosial yang didominasi laki-laki dan bersifat hierarkis (patriarkal).
Penguburan pada periode Kurgan II masih ditutupi dengan timbunan batu (cairn), sedangkan pada Kurgan III sudah menggunakan gundukan tanah atau kurgan, dan mulai muncul prasasti batu antropomorfik (stelae/menhirs) yang menggambarkan dewa-dewa.
Periode ini mencerminkan gelombang migrasi kedua dan ketiga dari orang-orang Kurgan ke Eropa, yang berkontribusi pada "Kurganisasi" Eropa dan penyebaran bahasa Proto-Indo-Eropa.
Migrasi gelombang kedua dan ketiga dari orang-orang Kurgan ke Eropa diyakini terjadi sekitar tahun 3400-3200 SM dan 3000-2800 SM, yang berkontribusi pada proses Indo-Eropanisasi di benua tersebut. Budaya-budaya Eropa yang terpengaruh selama periode ini termasuk budaya Baden, budaya Cernavoda, dan budaya Ezero.
3. periode Kurgan empat (sekitar Awal Milenium ke-3 SM):
Periode Keempat, sekitar paruh pertama milenium ke-3 Sebelum masehi, ditandai oleh meluasnya budaya Yamnaya (atau: Pit Grave) ke seluruh wilayah stepa, termasuk wilayah stepa Pontik-Kaspia, dari Ural hingga Rumania, dan merupakan tahap ekspansi utama yang membawa perubahan signifikan di Eropa, terutama terlihat dari penutur Proto-Indo-Eropa ke Eropa dan Asia.
Ekonomi mereka didasarkan pada penggembalaan ternak (sapi, domba, dan kuda) secara penuh, dengan pergerakan musiman antara padang rumput musim panas dan musim dingin menggunakan kereta atau gerobak kuda (wagon).
Masyarakat Kurgan empat dianggap sebagai penutur asli bahasa Proto-Indo-Eropa, yang menyebarkan bahasa, budaya, dan sistem sosial mereka melalui migrasi dan asimilasi ke berbagai wilayah di Eropa dan Asia. 
Secara keseluruhan, Periode Kurgan IV menandai transformasi besar dalam prasejarah Eropa, beralih dari masyarakat berbasis pertanian yang lebih damai ke masyarakat yang lebih hierarkis dan berorientasi pada peperangan. 

Jadi, dapat disimpulkan tentang  Hipotesis Kurgan yang diajukan oleh Marija Gimbutas, bahwa tanah air asli bangsa Proto-Indo-Eropa berada di Stepa Pontik-Kaspia (sekarang merujuk pada wilayah Ukraina selatan dan Rusia barat daya), serta bahasa-bahasa Indo-Eropa menyebar ke seluruh Eropa dan sebagian Asia, melalui serangkaian migrasi dan penaklukan oleh suku-suku nomaden penggembala dari wilayah tersebut, dimulai sekitar milenium ke-4 SM. 
Selain itu, Marija Gimbutas juga menambahkan dalam hipotesis nya, bahwa budaya Yamnaya (atau Pit Grave) adalah tahap kunci, dan yang paling ekspansif dari empat tahap budaya Kurgan yang diidentifikasi. Budaya Yamnaya memainkan peran penting sebagai kekuatan utama pendorong penyebaran bangsa Kurgan (Proto-Indo-Eropa) ke seluruh Eropa dan sebagian Asia. 

Komentar