Untuk lebih mendalami peradaban Mesir kuno, simak terus hingga akhir, hanya di Humaniora…
Peradaban ini dimulai dari unifikasi Mesir Hulu dan Hilir, sekitar tahun 3150 SM, selanjutnya berkembang selama kurang lebih tiga milenium.
Sejarah Mesir Kuno periode Dinasti awal diwarnai dengan fase kerajaan-kerajaan yang stabil dan ketidakstabilan, yang dikenal sebagai Periode Menengah. Mesir Kuno mencapai puncak kejayaannya pada masa Kerajaan Baru yang mulai berkembang sekitar 1550 SM..
Selanjutnya, peradaban ini mulai mengalami kemunduran. Mesir ditaklukkan oleh kekuatan-kekuatan asing pada periode akhir. Kekuasaan Fir'aun secara resmi dianggap berakhir sekitar 30 SM, ketika Kekaisaran Romawi menaklukkan dan menjadikan wilayah Mesir Ptolemaik sebagai bagian dari provinsi Romawi, yang kebetulan bersamaan dengan meninggalnya Cleopatra VII.
Meskipun ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan politik dan agama secara bertahap pada peradaban lembah Sungai Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan peradaban Mesir.
Perkembangan Sosial-Masyarakat
Perkembangan sosial masyarakat Mesir Kuno didasari oleh perpaduan berbagai suku bangsa dan kelompok etnis, yang dibagi menjadi beberapa yang akan dijelaskan sebagaimana berikut:
Penduduk asli:
merupakan penduduk asli Lembah sungai Nil, kelompok tertua yang menetap di sepanjang Sungai Nil, terdiri dari suku-suku nomaden dari Gurun Sahara Afrika sekitar 10.000-6.000 Sebelum Masehi, dan mulai menetap dan bercocok tanam.
Mereka adalah penduduk asli yang membentuk budaya predinasti (seperti Budaya Badari dan Naqada).
Penduduk Oasis (atau Amazigh):
merupakan Penduduk asli oasis di Gurun Barat, yang memberikan kontribusi pada campuran etnis Mesir kuno.
Kelompok Afro-Asiatik (atau Northeast Africa):
Berdasarkan Studi linguistik dan antropologi, menunjukkan adanya hubungan erat antara masyarakat Mesir awal dengan populasi di wilayah Tanduk Afrika (atau Horn of Africa) dan Nubia.
Populasi dari Nubia (yaitu wilayah Sudan modern), memiliki komposisi etnis dan budaya material yang sangat mirip dengan Mesir Hulu (atau Upper Egypt) pada masa awal.
Migran dari Levant atau Asia Barat Daya:
Selama periode Neolitikum, terjadi migrasi kelompok petani dari wilayah Levant (Suriah-Palestina) ke Delta Nil. Mereka membawa teknologi pertanian, domestikasi hewan (kambing, domba), dan bercampur dengan penduduk asli.
Perkembangan sosial Mesir Kuno ditandai dengan hierarki kaku berbasis kelas yang berpusat pada Fir'aun sebagai dewa maupun raja, didukung birokrat termasuk pendeta, setelah itu kelas menengah (termasuk juru tulis dan pengrajin), serta mayoritas petani dan budak.
Perkembangan peradaban berpusat pada Sungai Nil, budaya agraris yang stabil, berevolusi dari komunitas lokal menjadi negara kesatuan terpusat.
Periode ini, selain petani dan budak, serta juru tulis yang memiliki strata tertinggi, muncul spesialisasi pekerjaan seperti dokter, pematung, penenun, dan pelukis.
Uniknya, pada periode ini, hak buruh benar-benar diperhatikan. Tercatat pemogokan pekerja makam di Deir el-Medina karena keterlambatan pembayaran upah pada masa Kerajaan Baru sekitar 1500 an Sebelum Masehi, menunjukkan kesadaran terhadap hak pekerja.
Selain itu, Perempuan di Mesir Kuno memiliki hak lebih besar dibandingkan peradaban kuno lainnya, termasuk hak memiliki properti, mengajukan cerai, dan hak untuk menjadi Fir'aun, seperti Hatshepsut yang berkuasa dari 1479 hingga 1458 Sebelum Masehi.
Pemerintahan & Hukum:
Fir’aun adalah Raja yang berkuasa penuh atas negara, setidaknya dalam teori, dan memegang kendali atas semua tanah dan sumber dayanya.
Fir'aun juga merupakan komandan militer tertinggi dan kepala pemerintahan, yang bergantung pada birokrasi pejabat untuk mengurusi masalah-masalahnya.
Adalah sang “Wazir”, orang kedua di Kerajaan, yang bertanggung jawab terhadap masalah administrasi, dan juga berperan sebagai perwakilan Raja yang mengkoordinir survey tanah, kas negara, proyek pembangunan, sistem hukum, dan arsip-arsip Kerajaan.
Di level Regional, Kerajaan dibagi menjadi 42 wilayah administratif yang disebut “Nome”, dan masing-masing dipimpin oleh seorang “Nomark”, yang bertanggung jawab kepada “Wazir”.
Selain itu, Kuil menjadi tulang punggung utama perekonomian yang berperan tidak hanya sebagai pusat pemujaan, namun juga berperan mengumpulkan dan menyimpan kekayaan negara dalam sebuah sistem lumbung dan perbendaharaan dengan meredistribusi biji-bijian dan barang-barang lainnya.
Hukum pada masa Mesir Kuno berfungsi laiknya di negara manapun pada masa kini, seperangkat aturan disusun oleh mereka yang dianggap pakar dalam bidang ini untuk selanjutnya disepakati bersama sebagai aturan hukum.
Ada juga sistem peradilan yang menimbang bukti-bukti pelanggaran terhadap aturan tersebut, dan satuan kepolisian yang bertugas menegakkan, serta menyeret para pelanggar aturan ke Pengadilan.
Hingga saat ini, tidak atau belum ditemukan kaitan yang menghubungkan kaidah (code) hukum bangsa Mesir dengan beragam dokumen legal bangsa Mesopotamia seperti Hukum Ur-Nammu (Ur-Nammu Code) atau Hukum Hammurabi (Hammurabi's Code). Namun kaitan ini bisa sangat mungkin terjadi, mengingat preseden dalam mengambil putusan sidang mengacu pada kasus yang terjadi dalam kurun Periode Dinasti Awal, sekitar 3150 sampai sekitar 2613 SM, sebagaimana bukti penggunaan preseden tersebut pada tahun-tahun awal dari masa Kerajaan Tua, sekitar 2613 hingga 2181 SM.
Preseden hukum ini bakal terus digunakan dalam pengambilan putusan legal selama masa Kerajaan Tengah (sekitar 2040-1782 SM) dan seterusnya sepanjang sisa kesejarahan Mesir Kuno.
Secara administrasi, Badan pengadilan yang melaksanakan sistem hukum terdiri dari:
Firaun: Pemimpin tertinggi, sumber hukum, dan penegak keadilan tertinggi yang dianggap sebagai perantara dewa.
Wazir (Tjaty): Pejabat tertinggi di bawah Firaun, bertindak sebagai ketua Mahkamah Agung (hakim tertinggi) yang mengawasi sistem kepolisian dan administrasi keadilan.
Pendeta Ma'at (Hakim Penyarung Ma'at): Sejak Dinasti Kelima, wazir yang bertanggung jawab atas sistem peradilan disebut sebagai Pendeta Ma'at, Dia bertugas menegakkan kebenaran, keadilan, dan keseimbangan sosial (yang disebut Ma'at) dengan bertindak sebagai perantara hukum, memastikan hukum diterapkan sesuai dengan kehendak ilahi untuk mencegah kekacauan (Isfet). Pendeta Ma'at memiliki kewenangan untuk memberikan vonis hukum.
Oracle (Perantara Ilahi): Perantara ini sebenarnya adalah patung dewa yang dibawa dalam tandu oleh para pendeta dalam sebuah prosesi. Pada masa Kerajaan Baru Hingga Periode Akhir,, jika pengadilan tidak dapat memutuskan perkara (misalnya dalam kasus pencurian barang kuil), mereka menggunakan metode oracle. Patung Dewa (seperti Amun) akan diarak oleh pendeta Ma’at, dan keputusan dibuat berdasarkan gerakan patung tersebut (misalnya, gerakan ke depan dianggap "Ya", ke belakang jawaban "Tidak").
“Djadjat” (pengadilan kerajaan): merujuk pada pengadilan kekaisaran atau dewan tertinggi yang memiliki otoritas tinggi, sering kali bertindak di bawah pengawasan langsung Firaun atau Wazir (pejabat tertinggi di bawah Firaun). terdiri dari pejabat tinggi, hakim, dan kadang-kadang pendeta yang ditunjuk untuk menjaga konsep Ma'at (kebenaran, keseimbangan, dan ketertiban).
Kenbet” (pengadilan pada tingkat regional dan nasional): Kenbet adalah dewan pengadilan atau dewan hakim di Mesir Kuno yang bertanggung jawab menegakkan hukum, menyelesaikan sengketa properti, dan menangani perkara kriminal. Kenbet beroperasi secara hierarkis, dengan kenbet lokal menangani perkara kecil dan kenbet besar yang diawasi wazir menangani kasus serius.
Seru (Kelompok Penatua/Tetua Desa): Seru adalah majelis penatua yang sering menangani perselisihan tingkat lokal atau pedesaan, berfungsi sebagai pengadilan komunitas.
Juru Tulis (Scribes): Petugas penting yang mendokumentasikan persidangan, mencatat kesaksian, surat wasiat, dan kontrak hukum.
Medjay (Polisi): Pada masa Kerajaan Baru, mereka bertindak sebagai penegak hukum yang menyelidiki kejahatan, mengawasi pasar, dan melaporkan pelanggaran kepada wazir atau otoritas pengadilan.
Jika sebuah tindak kriminal terjadi pada satu desa dan para seru tidak bisa mencapai kata sepakat dalam mengambil putusan, kasusnya akan dinaikkan ke tingkat kenbet atau hingga ke tingkat djadjat, namun hal semacam ini sepertinya juga jarang terjadi.
Lazimnya, apapun yang terjadi dalam satu desa juga bakal diselesaikan para “Seru” di wilayah itu sendiri. “Kenbet” diyakini lebih bertindak sebagai badan yang merancang aturan hukum dan melaksanakan hukuman pada tingkat regional (atau setingkat distrik) dan nasional, sementara “Djadjat” lebih merupakan badan yang membuat keputusan akhir atas (esensi) suatu aturan, yakni apakah aturan tersebut dapat dianggap sah dan bersifat mengikat sesuai dengan Ma'at atau konsep kebenaran, keseimbangan, ketertiban, hukum, moraltas, dan keadilan.
Diperkirakan, kebanyakan masyarakat Mesir kuno merupakan warganegara yang tunduk hukum dan taat aturan.
Namun,berbagai konflik seperti perselisihan hak atas tanah dan pengairan, pertikaian atas kepemilikan ternak atau perebutan hak atas suatu gelar atau warisan juga masih banyak ditemukan.
Baron Bunsen, menggambarkan bagaimana:
“Masyarakat Mesir antri berbaris setiap hari dan menunggu giliran untuk memberikan kesaksian atau petisi mereka ke hadapan para hakim. Putusan-putusan terkait kesaksian atau petisi ini didasarkan pada praktik-praktik legal yang tradisional, sekalipun seharusnya juga tersedia kaidah tertulis sebagai bahan kajian.”
Para hakim yang diacu Baron Bunsen dalam komentarnya di atas adalah para anggota dari “Kenbet” (pengadilan) dan tiap ibukota dari satu distrik menyelenggarakan satu sesi persidangan setiap hari.
Dengan demikian, kedudukan “Wazir” menyatakan posisi (setara) hakim agung, namun sebagian besar persidangan dipimpin oleh para magistrat di bawahnya.
Kebanyakan kasus yang ditangani adalah perselisihan atas kepemilikan properti atau harta dalam sebuah keluarga pasca meninggalnya kepala keluarga laki-laki (patriarch) ataupun perempuan (matriarch) mereka.
Terkait hal ini, masyarakat Mesir kuno tidak mengenal surat wasiat (atau wills), namun seseorang bisa membuat atau menuliskan dokumen-alih (transfer document, atau semacam surat keterangan pada saat ini), untuk menjelaskan siapa mendapat apa, dan berapa dari pembagian harta kekayaan atau barang berharga lainnya. Pun sejak dulu seperti pada jaman Mesir kuno hingga masa sekarang, dokumen seperti ini sering menjadi pemicu pertikaian antar anggota keluarga yang saling mengadukan satu sama lain ke pengadilan.
Perekonomian & Perdagangan:
Perekonomian Mesir Kuno berpusat pada pertanian yang bergantung pada Sungai Nil dan Peternakan. Sedangkan perdagangan dilakukan dengan negara-negara tetangga, seperti Anatolia dan lainnya.
Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang.
Bangsa Mesir menanam Gandum Emmer dan Jelai, serta beberapa Gandum sereal lain, sebagai bahan Roti dan Bir. Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat. Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya digunakan untuk menenun Linen dan membuat pakaian. Papirus atau alang-alang papirus (disebut juga Cyperus papyrus), ditanam untuk pembuatan kertas.
Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi, sehingga harus diairi manual, yaitu dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi daun Bawang Prey, Bawang Putih, Melon, Squash, Kacang, Selada, dan tanaman-tanaman lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi Wine.
Setelah pertanian, Mesir Kuno juga mengembangkan Peternakan. Selain Sapi, hewan ternak yang paling penting dimasa itu, adalah Domba, Kambing, dan Babi. Unggas seperti Bebek, Angsa, dan Merpati ditangkap dengan jaring dan dibesarkan di peternakan, dan dipaksa untuk makan adonan, agar semakin gemuk.
Pemerintah Mesir, mengumpulkan pajak terhadap hewan ternak dalam sensus-sensus reguler, dan ukuran ternak melambangkan martabat dan kepentingan pemiliknya.
Sementara itu, di sungai Nil terdapat sumber daya ikan. Lebah-lebah juga didomestikasi dari masa Kerajaan Lama, dan hewan tersebut menghasilkan madu dan lilin.
Keledai dan Lembu digunakan sebagai hewan pekerja, sedangkan Lembu yang gemuk dikorbankan dalam ritual persembahan. Kuda-kuda dibawa oleh Hyksos, Asia Barat, pada Periode Menengah Kedua, sementara unta, meskipun sudah ada sejak periode Kerajaan Baru, tidak digunakan sebagai hewan pekerja hingga Periode Akhir.
Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa gajah sempat dimanfaatkan pada Periode Akhir, tetapi akhirnya tidak digunakan, karena kurangnya tanah untuk merumput.
Anjing, Kucing, dan Monyet menjadi hewan peliharaan, sementara hewan-hewan seperti Singa yang diimpor dari jantung Afrika merupakan milik kerajaan.
Seorang sejarawan Yunani yang bernama Herodotus mengatakan bahwa bangsa Mesir adalah satu-satunya bangsa yang menyimpan hewan di rumah mereka.
Selain Pertanian dan Peternakan, Mesir Kuno kaya akan batu bangunan dan dekoratif, termasuk Biji tembaga, timah, emas, dan batu-batu semi mulia.
Kekayaan itu memungkinkan orang Mesir Kuno untuk membangun monumen, memahat patung, membuat alat-alat, dan perhiasan.
Pembalseman menggunakan Garam Natron, yang diperoleh dari Wadi Natrun (adalah sebuah lembah yang terletak di Buhayrah, Mesir). Garam ini biasanya digunakan untuk mumifikasi, yang juga menjadi sumber gypsum, dan diperlukan untuk membuat plester.
Batuan yang mengandung bijih besi dapat ditemukan di wadi-wadi gurun timur dan Sinai, dengan kondisi alam yang tidak ramah. Membutuhkan ekspedisi besar (biasanya dikontrol negara) untuk mendapatkan sumber daya alam di sana.
Terdapat pula sebuah tambang emas luas di Nubia, dan salah satu peta pertama yang ditemukan adalah peta sebuah tambang emas di wilayah ini.
Wadi Hammamat, adalah sebuah wadi atau sungai ephemeral di sebelah timur negara Mesir. Wadi ini terbentang di sepanjang Gurun Timur dari Kota Qift atau Koptos di Gubernuran Qina, sampai Kota Al Qusair di Gubernuran Laut Merah, merupakan sumber penting granit, emas dan material greywacke, yang merupakan batu pasir berwarna gelap, keras, dan kurang terpilah yang terdiri dari butiran kuarsa, feldspar, dan fragmen batuan kecil dalam matriks lempung yang padat.
Rijang (atau Batu Api) adalah mineral yang pertama kali dikumpulkan dan digunakan untuk membuat perkakas seperti kapak, pisau, kepala anak panah, dan lainnya. Rijang adalah potongan awal yang membuktikan adanya habitat manusia di lembah Sungai Nil.
Nodul-nodul mineral secara hati-hati dipipihkan untuk membuat bilah, kepala panah dengan tingkat kekerasan serta daya tahan yang sedang, dan hal ini tetap bertahan bahkan setelah tembaga digunakan, untuk tujuan tersebut.
Orang-orang Mesir kuno berdagang dengan negeri-negeri tetangga untuk memperoleh barang yang tidak ada di Mesir. Pada masa pra dinasti, mereka berdagang dengan Nubia, sekarang Sudan Utara, untuk memperoleh emas dan dupa.
Orang Mesir kuno juga berdagang dengan Palestina, dengan bukti adanya kendi minyak bergaya Palestina di pemakaman Fir'aun Dinasti Pertama.
Koloni Mesir di Kana'an selatan juga berusia sedikit lebih tua dari dinasti pertama. Fir'aun Narmer Yang berkuasa sekitar 3100 SM, memproduksi Tembikar Mesir di Kana'an, dan mengekspornya kembali ke Mesir.
Paling lambat dari masa Dinasti Kedua, Mesir kuno mendapatkan kayu berkualitas tinggi (yang tak dapat ditemui di Mesir) dari Byblos (atau Jubail di Lebanon sekarang). Pada masa Dinasti Kelima, Mesir kuno dan Negeri Punt memperdagangkan emas, damar aromatik, Dalbergia melanoxylon atau kayu Hitam Afika, kayu eboni, gading, budak, dan binatang liar.
Mesir bergantung pada Anatolia untuk memasok persediaan timah dan tembaga (keduanya merupakan bahan baku untuk membuat perunggu). Mereka juga menghargai batu biru lazuardi, yang harus diimpor dari Afganistan.
Selain itu, Partner dagang Mesir di Laut Tengah meliputi Yunani dan Kreta, yang menyediakan minyak zaitun (selain barang-barang lainnya). Sebagai gantinya, mereka impor bahan baku dan barang mewah, Mesir mengekspor gandum, emas, linen, papirus, dan barang-barang jadi, seperti kaca dan benda-benda batu.
Dalam perdagangan, Bangsa Mesir Kuno belum mengenal uang koin hingga Periode Akhir, yaitu antara 664-323 SM, sehingga mereka menggunakan alat tukar berupa sistem Barter, yang berupa pertukaran karung Beras dan beberapa Deben, (yaitu satuan berat yang setara dengan 91 gram) tembaga atau perak sebagai denominatornya.
Pekerja dibayar menggunakan biji-bijian, dengan perhitungan: pekerja kasar biasanya hanya mendapat 5 karung (atau sekitar 200 kg) biji-bijian per bulan, sementara mandor bisa mencapai 7 karung (atau sekitar 250 kg) per bulan.
Harga tidak berubah di seluruh wilayah negara dan biasanya dicatat untuk membantu perdagangan; misalnya pakaian dihargai 5 Deben tembaga, sementara sapi bernilai 140 Deben.
Pada abad ke-5 sebelum masehi, uang koin mulai dikenal di Mesir. Awalnya koin digunakan sebagai nilai standar dari logam mulia, dibanding sebagai uang yang sebenarnya; baru beberapa abad kemudian uang koin mulai digunakan sebagai standar perdagangan.
Kepercayaan Masyarakat Mesir Kuno;
Kepercayaan terhadap kekuatan gaib dan adanya kehidupan setelah kematian dipegang secara turun temurun. Kuil-kuil diisi oleh dewa-dewa yang memiliki kekuatan supernatural dan menjadi tempat untuk meminta perlindungan, namun dewa-dewa tidak selalu dilihat sebagai sosok yang baik; orang mesir percaya dewa-dewa perlu diberi sesajen agar tidak mengeluarkan amarah. Struktur ini dapat berubah, tergantung siapa yang berkuasa ketika itu.
Teologi Mesir kuno merujuk pada kepercayaan politeistik, yaitu kepercayaan kepada banyak dewa, yang diwarnai dengan hubungan erat antara kehidupan manusia dan lingkungan alam. Orang Mesir kuno percaya bahwa kekuatan alam, seperti matahari, langit, bumi, dan Sungai yang merujuk pada Sungai Nil, adalah dewa atau tempat tinggal para dewa. Mereka percaya bahwa para dewa mengendalikan fenomena alam dan ada dalam unsur-unsur alam itu sendiri, selain mengaitkan fenomena alam yang berbeda dengan dewa-dewa.
Berikut adalah nama-nama dewa-dewi kepercayaan masyarakat Mesir Kuno:
Dewa Ra (disebut juga Re): digambarkan sebagai pria berbadan manusia dengan kepala burung elang (peregrine atau lanner), yang mengenakan mahkota cakram matahari di kepalanya, melambangkan perannya sebagai penguasa langit. Sedangkan ular kobra suci melingkar di mahkota , yang biasa disebut Uraeus, melambangkan kedaulatan, kerajaan, dewa, dan otoritas ilahi. Dia sering divisualisasikan membawa tongkat was (melambangkan kekuasaan) dan ankh (yang melambangkan kehidupan).
Selain itu, dia juga digambarkan menaiki perahu surya (atau Matet di pagi hari dan Semktet di sore hari) untuk menyeberangi langit.
Dewa Ra sendiri dikenal juga sebagai Dewa Matahari, raja bagi para dewa. Dia dipuja sebagai pencipta kehidupan, pelindung langit, dan bumi, serta dunia bawah.
Dewa Amun:
digambarkan sebagai manusia berjanggut dengan kulit biru (melambangkan udara atau penciptaan) atau perunggu, mengenakan mahkota berbulu ganda, yang diyakini melambangkan elemen angin atau udara. Dia memegang ankh (simbol kehidupan) dan tongkat was (simbol kekuasaan).
Dewa Amun atau Yang Tersembunyi, melambangkan udara yang ada di mana-mana. dikenal di Thebes dan awalnya merupakan dewa lokal, menguasai udara serta kesuburan.
Ketika masa Kerajaan Baru (1570-1069 SM), terjadi penyatuan Dewa Amun dan Dewa Ra, digambarkan kan sebagai dewa tertinggi yang membawa simbol matahari dan dua bulu. Penyatuan dewa Amun-Ra menonjolkan peran ganda sebagai pencipta yang tidak terlihat, namun dirasakan (yaitu angin) dan pencipta yang terlihat (yaitu matahari).
Dewa Amun-Ra dianggap sebagai pelindung negara dan Fir'aun, menjadi dewa paling kuat di Mesir selama berabad-abad, bahkan setelah upaya Fir'aun Akhnaton yang memerintah sekitar 1351–1334 SM, menggantinya dengan dewa Aton. Namun, pemujaan dewa Amun-Ra kembali dipulihkan oleh Tutankhamun yang memerintah 1333-1324 SM.
Dewa Atum:
digambarkan sebagai manusia berjanggut yang memakai mahkota ganda, melambangkan kekuasaan atas Mesir Hulu dan Hilir. Dia memegang ankh (simbol kehidupan) dan tongkat was (simbol kekuasaan). Dewa Atum melambangkan kesempurnaan, awal mula, dan akhir kehidupan, dan Sering dikaitkan dengan matahari terbenam.
Merupakan dewa pencipta purba dalam mitologi Mesir kuno yang diyakini muncul sendiri dari perairan kacau (dikenal dengan Nu) dan menciptakan pasangan dewa pertama, yaitu dewa Shu dan dewi Tefnut.
Pasangan Dewa Shu dan Dewi Tefnut:
Merupakan pasangan dewa-dewi primordial Mesir Kuno, anak dari dewa Atum, yang mewakili elemen dasar penciptaan.
Dewa Shu adalah dewa udara atau angin, biasanya digambarkan sebagai pria yang mengenakan hiasan kepala berupa satu bulu burung unta, yang juga merupakan hieroglif untuk namanya. Dalam beberapa representasi, ia juga digambarkan sebagai singa atau manusia dengan bagian belakang tubuh singa.
Dewa Shu melambangkan udara kering, atmosfer, dan kekosongan.
Sedangkan Dewi Tefnut, adalah dewi kelembapan atau embun, secara umum digambarkan sebagai singa betina atau wanita berkepala singa betina. Sering mengenakan mahkota cakram matahari (atau sun disk) yang dikelilingi oleh ular uraeus (atau ular kobra) di kepala, menunjukkan hubungannya dengan Dewa Ra.
Pasangan ini, sering direpresentasikan sebagai dua singa yang duduk berdampingan, mewakili "twin lion gods" (Atau dewa singa kembar) yang menjaga horison.
Pasangan ini memiliki anak, sepasang dewa-dewi kembar yang mewakili elemen bumi dan langit, yaitu Dewa Geb dan Dewi Nut.
Pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut:
Pasangan dewa-dewi ini melambangkan dualitas bumi dan langit.
Dewa Gebt digambarkan sebagai pria yang berbaring telentang di bawah dewi langit Nut (yang melengkung di atasnya) dan dipisahkan oleh dewa Shu. Ia sering berwujud manusia dengan kulit hijau atau hitam, berkepala angsa.
Dewa Gebt adalah dewa Bumi, melambangkan kesuburan, tumbuhan, dan stabilitas, di mana tawanya dipercaya menyebabkan gempa bumi,
sedangkan Dewi Nut, Sering kali digambarkan dalam wujud manusia perempuan, tetapi kadang digambarkan dalam wujud sapi yang tubuhnya besar membetuk langit dan surga, digambarkan juga sebagai pohon ara, atau sebagai babi raksasa yang menyusui banyak anak babi (melambangkan bintang-bintang).
Dewi Nut yang berarti Langit, dianggap salah satu dewi paling tua dalam pantheon Mesir. Asal mulanya disebutkan dalam kisah penciptaan semesta yang ditemukan di Heliopolis.
Pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut adalah orang tua dari Dewa Osiris, Isis, Seth, dan Dewi Nephthys.
Dewa Seth:
divisualisasikan secara antromorfik dengan kepala hewan misterius, yang disebut hewan Seth, memiliki moncong melengkung ke bawah, telinga persegi panjang, dan ekor bercabang atau sebagai manusia seutuhnya. Dia sering diasosiasikan dengan warna merah, badai, dan gurun, mewakili kekuatan yang tak terduga.
Dewa Seth adalah putra dari pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut, serta Memiliki pasangan Dewi Nephthys. Dari hubungan tersebut, mereka memiliki anak bernama Dewa Anubis.
Meskipun Dewa Seth sering dianggap jahat karena perannya membunuh saudaranya, yaitu Dewa Osiris, Dewa Seth juga dipandang sebagai pelindung Ra dari ular kekacauan Apophis dan merupakan dewa pelindung Fir'aun tertentu (seperti Ramses Agung) yang membutuhkan kekuatannya.
Dewi Nephthys:
digambarkan sebagai seorang wanita yang mengenakan hiasan kepala hieroglif melambangkan rumah dan keranjang (menandakan "Nyonya Rumah Tangga"). Terkadang, Nephthys digambarkan sebagai burung layang-layang (sejenis elang atau alap-alap).
Merupakan salah satu anak dari pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut, dan merupakan Istri dari Dewa Seth, yang memiliki anak yaitu Dewa Anubis.
Dia adalah seorang dewi pelindung pemakaman, Sering digambarkan dengan lengan terentang sebagai sayap falkon atau burung layang-layang (atau burung kite), melambangkan perlindungan bagi orang mati.
Dewi Nephthys dikenal sebagai "Saudari yang Menangis" karena perannya dalam membantu dewa Isis, meratapi dan membangkitkan Dewa Osiris.
Dewa Osiris:
digambarkan sebagai mumi firaun dengan kulit berwarna hijau (simbol kelahiran kembali) atau hitam (simbol kesuburan tanah Nil). Ia mengenakan mahkota Atef, memegang tongkat gembala dan cambuk, serta berjenggot dikepang, mewakili perannya sebagai penguasa Dunia Bawah yang adil dan hakim orang mati.
Dewa Osiris merupakan salah satu anak dari pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut, dan merupakan suami dari Dewi Isis, serta dari pernikahan tersebut memiliki anak bernama dewa Horus.
Dewa Osiris adalah dewa maut, mewakili siklus kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Dalam beberapa literatur mesir kuno, Kerajaannya terdapat di barat, dan dia menghakimi jiwa manusia, berdasarkan pahala yang mereka kumpulkan.
Dewi Isis:
digambarkan sebagai wanita anggun mengenakan gaun ketat, mahkota takhta hieroglif, atau tanduk sapi dengan cakram matahari. Ia sering ditampilkan duduk menyusui putranya, Horus, yang melambangkan perlindungan dan kesuburan.
Dewi Isis juga merupakan salah satu anak dari pasangan Dewa Gebt dan Dewi Nut, dan dia pasangan dari dewa Osiris, dan dewa Horus adalah anak dari hasil pernikahan mereka.
Dewi Isis adalah dewi utama dalam mitologi Mesir kuno yang dipuja sebagai pelindung, dewi sihir, keibuan, penyembuhan, dan kesuburan.
Dia melambangkan kesetiaan dan pelindung firaun. Dikenal sebagai "Dewi dengan Sepuluh Ribu Nama". Pengaruh pemujaannya menyebar dari Mesir hingga Romawi.
Dewa Horus:
digambarkan sebagai pria berkepala elang yang mengenakan pschent (mahkota ganda merah dan putih) yang melambangkan kekuasaan atas Mesir Hulu dan Hilir.
Dikenal sebagai dewa langit, perang, dan dewa pelindung, yang merupakan putra dari pasangan dewa Osiris dan dewi Isis .
Sebagai putra dari Isis dan Osiris, ia dikenal karena perannya dalam membalas kematian ayahnya dengan mengalahkan Dewa Seth. Setiap Fir'aun Mesir, dianggap sebagai manifestasi "Horus yang Hidup" di bumi.
Dewa Anubis:
digambarkan sebagai sosok antropomorfik dengan kepala serigala (disebut juga jackal) atau anjing liar berwarna hitam dan bertubuh manusia. Warna hitam melambangkan warna mayat setelah dibalsem dan juga dianggap sebagai tanah subur di tepi Sungai Nil, yang merujuk pada peran Anubis sebagai pelindung mumi, dewa mumifikasi, serta pemandu jiwa ke alam baka.
Dewa Anubis adalah putra dari pasangan Dewa Seth dan Dewi Nephthys. Dikenal sebagai Penguasa Tanah Suci, yaitu Nekropolis.
Dewa Anubis berperan melindungi makam, memandu arwah, serta menimbang jantung orang mati dalam ritual pengadilan akhir di dunia bawah.
Dewa Thoth:
digambarkan sebagai manusia berbadan tegap dengan kepala burung Ibis, yang memiliki paruh panjang dan melengkung. Sebagai dewa kebijaksanaan, tulisan, sihir, dan bulan, ia sering mengenakan hiasan kepala berupa cakram bulan dan bulan sabit. Perwujudan lainnya adalah dalam bentuk monyet babon duduk, yang juga melambangkan kebijaksanaan dan pengamatan.
Dewa Thoth adalah dewa kebijaksanaan, tulisan, sihir, dan dewa bulan, yang sangat penting dalam mitologi Mesir Kuno.
Dia dianggap sebagai pencipta hieroglif, juru tulis para dewa, dan pelindung pengetahuan, yang perannya mencakup penimbang hati di akhirat dan mediator ilahi.
Dewi Ma'at:
digambarkan sebagai wanita muda yang mengenakan atau membawa bulu burung unta di kepalanya, sebagai simbol kebenaran. Seringkali duduk atau berdiri dengan sayap terbentang di lengannya, melambangkan perlindungan dan keseimbangan.
Dewi Ma'at melambangkan hukum dan moralitas, serta memainkan peran sentral dalam upacara penimbangan hati di dunia bawah (atau Duat). Dia sering dikaitkan dengan Thoth, dewa kebijaksanaan, dan perannya sangat krusial dalam menentukan apakah seseorang layak mendapatkan kehidupan abadi.
Dewi Sekhmet:
digambarkan sebagai wanita bertubuh manusia dengan kepala singa betina yang ganas, melambangkan kekuatan penghancur sekaligus pelindung. Sering kali mengenakan gaun merah mengenakan cakram matahari dan ular suci (atau uraeus) di kepalanya, serta membawa ankh (simbol kehidupan), melambangkan hubungannya dengan dewa Ra.
Sebagai dewi yang menakutkan, ia digambarkan membawa kehancuran dan penyakit, namun juga disembah sebagai penyembuh dan pelindung Fir'aun dalam peperangan.
Dewi Hathor:
digambarkan sebagai seorang wanita mengenakan hiasan kepala berupa tanduk sapi yang mengapit cakram matahari, atau sepenuhnya dalam wujud seekor sapi.
Merupakan dewi langit, cinta, dan kesuburan, Sebagai pelindung firaun, dan sering dilukiskan menyusui raja atau melindungi mereka dengan kalung menat.
Dewi Hathor melambangkan kebahagiaan dan berperan penting dalam membantu orang mati di alam baka, sering digambarkan sebagai pelindung kehidupan dan pelindung perjalanan ke barat atau alam kubur.
Dewa Sobek:
digambarkan sebagai manusia berkepala buaya atau buaya utuh. Dia sering mengenakan mahkota yang terdiri dari cakram matahari, tanduk domba jantan, dan bulu-bulu, serta dikaitkan dengan kesuburan, kekuatan militer, dan perlindungan Fir'aun.
Sebagai dewa kesuburan, ia mewakili kekuatan Sungai Nil. Sebagai dewa pelindung, ia disembah untuk menangkal bahaya, terutama dari serangan buaya di sungai Nil.
DewI Bastet:
Awalnya, Dewi ini digambarkan sebagai singa betina ganas, ia berevolusi menjadi sosok kucing domestik yang anggun, bertugas menjaga rumah, wanita, dan anak-anak.
Sering direpresentasikan sebagai wanita berkepala kucing yang memegang sistrum (sejenis alat musik suci) atau aegis (kalung pelindung).
Dewi Bastet Melambangkan perlindungan rumah, kesuburan, kesehatan, kegembiraan, musik, tari, dan matahari. Selain menjadi perlindungan yang lembut sebagai kucing rumahan, Dewi Bastet memiliki kekuatan balas dendam yang agresif layaknya singa betina.
Dewa Ptah:
digambarkan sebagai manusia dalam wujud mumi dengan kulit hijau (simbol kesuburan/kelahiran kembali) dan janggut lurus. Dia mengenakan topi tengkorak, memegang tongkat gabungan Ankh (melambangkan kehidupan), Djed (melambangkan stabilitas), dan tongkat Was (melambangkan kekuatan).
Sebagai dewa utama di Memphis, Dewa Ptah digambarkan sebagai sosok yang tenang namun penuh daya cipta, yang menciptakan dunia melalui pemikiran dan kata-katanya.
Dewa Khnum:
digambarkan sebagai pria berkepala domba jantan bertanduk horizontal atau melengkung, yang melambangkan kesuburan. Mengenakan mahkota putih Mesir Hulu, juga memegang ankh (simbol kehidupan) dan tongkat was (simbol kekuasaan).
Dia sering diperlihatkan duduk di roda tembikar, membentuk manusia dan tubuh mereka dari tanah liat, serta memegang kendi air sebagai sumber Sungai Nil.
Sebagai "Pembuat Tembikar Ilahi", dewa Khnum dihormati karena perannya dalam menciptakan tubuh manusia dan memberikan Ka (roh).
Dewa Apophis (disebut pula dewa Apep):
digambarkan sebagai ular raksasa yang mengerikan, sering divisualisasikan sebagai ular python atau kobra raksasa. Beberapa deskripsi menyebutkan tubuhnya terbuat dari batu api dan panjangnya bisa mencapai belasan meter.
melambangkan kekacauan (atau Isfet), kegelapan, dan kejahatan.
Ia adalah musuh bebuyutan Dewa Matahari Ra, yang berusaha menelan Ra setiap malam saat perjalanan melalui dunia bawah.
Dalam Book of the Dead dan lukisan kuil, ia ditampilkan sebagai ular yang dipotong-potong, ditusuk, atau diserang oleh kucing besar (perwujudan dewa Ra).
Dewa Apep tidak disembah, melainkan ditakuti, dan ritual pengusiran dilakukan untuk mencegahnya menghancurkan dunia.
Kepercayaan ini mengalami perubahan selama ribuan tahun, dengan sinkretisme (atau penggabungan) dewa, seperti Dewa Amun-Ra atau Sobek-Ra, yang umum terjadi untuk memperluas pengaruh penguasa. .
Pemakaman Mesir Kuno;
Bangsa Mesir kuno mempunyai serangkaian praktik pemakaman rumit yang mereka yakini diperlukan untuk memastikan keabadian mereka setelah kematian.
Ritual-ritual ini termasuk mumifikasi tubuh , melakukan mantra sihir , dan penguburan dengan barang-barang kuburan tertentu yang dianggap dibutuhkan di alam baka .
Sejarawan Yunani Herodotus (abad ke-5 SM) dan Diodorus Siculus (abad ke-1 SM) memberikan bukti terlengkap yang masih ada tentang bagaimana orang Mesir kuno melakukan prosesi pengawetan jenazah.
Dalam catatan mereka, Sebelum pembalseman, atau pengawetan jenazah , untuk menunda atau mencegah pembusukan, para pelayat, terutama jika almarhum memiliki status tinggi, menutupi wajah mereka dengan lumpur, dan berparade di sekitar kota sambil memukul dada mereka.
Jika istri seorang pria berstatus tinggi meninggal, jenazahnya tidak dibalsem sampai tiga atau empat hari berlalu, karena ini mencegah penyalah-gunaan jenazah. Jika seseorang tenggelam atau diserang, pembalseman dilakukan segera pada tubuhnya, dengan cara yang sakral dan hati-hati. Kematian semacam ini dipandang sebagai sesuatu yang dihormati, dan hanya pendeta yang diizinkan untuk menyentuh jenazah.
Setelah pembalseman, para pelayat mungkin melakukan ritual yang melibatkan pementasan penghakiman selama Jam Vigil atau jam penjagaan, dengan sukarelawan untuk memainkan peran dewa Osiris dan saudara musuhnya yaitu dewa Seth, serta dewa-dewa seperti dewi Isis, Nephthys, Horus, Anubis, dan dewa Thoth.
Menurut cerita, dewa Seth iri kepada saudaranya, dewa Osiris karena diberi takhta sebelum dia, jadi merencanakan untuk membunuhnya. Istri dewa Osiris, yaitu Dewi Isis, bertarung bolak-balik dengan Dewa Seth untuk mendapatkan tubuh Dewa Osiris, dan melalui perjuangan ini, roh dewa Osiris hilang. Meskipun demikian, dewa Osiris bangkit kembali dan diangkat kembali sebagai dewa.
Selain pementasan penghakiman Dewa Osiris, banyak prosesi pemakaman dilakukan di seluruh nekropolis terdekat, yang melambangkan berbagai perjalanan suci.
Prosesi pemakaman ke kuburan umumnya melibatkan sapi yang menarik jenazah dalam kereta luncur, dengan teman dan keluarga mengikuti di belakang. Selama prosesi, pendeta membakar dupa dan menuangkan susu di depan jenazah.
Setelah tiba di kuburan, dan pada dasarnya di kehidupan selanjutnya, pendeta melakukan upacara Pembukaan Mulut pada orang yang meninggal.
Kepala orang yang meninggal diputar ke arah selatan, dan tubuhnya dibayangkan sebagai replika patung orang yang meninggal. Membuka mulut orang yang meninggal melambangkan mengizinkan orang tersebut untuk berbicara dan membela diri selama proses penghakiman. Barang-barang kemudian dipersembahkan kepada orang yang meninggal untuk mengakhiri upacara.
Hasil Budaya Peradaban Mesir kuno;
Ada beberapa Hasil budaya peradaban Mesir Kuno yang akan diuraikan dalam penjelasan berikut:
1. Terkait Bahasa dan Tulisan;
Bahasa Mesir adalah bahasa Afro-Asiatik yang berhubungan dekat dengan bahasa Berber dan Semit. Bahasa ini memiliki sejarah bahasa terpanjang kedua (setelah Sumeria).
Bahasa Mesir telah ditulis sejak 3200 SM dan sudah dituturkan sejak waktu yang lebih lama. Fase-fase pada bahasa Mesir Kuno adalah bahasa Mesir Lama, Pertengahan, Akhir, Demotik, dan Koptik.
Tulisan Mesir tidak menunjukkan perbedaan dialek sebelum Koptik, tetapi mungkin dituturkan dalam dialek-dialek regional di sekitar Memphis dan nantinya Thebes.
Huruf tulisan Mesir kuno disebut Hieroglif, yang merupakan tulisan pertama dan digunakan oleh orang Mesir kuno.
Ciri dari huruf ini, terdiri dari sekitar 500 simbol, yang mewakili kata atau suara, dan berbentuk gambar manusia, hewan, atau benda, yang merupakan lambang tulisan, menyerupai gambar paku. Biasanya digunakan untuk prasasti-prasasti monumental, seperti yang ditemukan di kuil-kuil dan makam-makam besar.
Tulisan pertama kali ditemukan di lingkungan kerajaan, terutama pada barang-barang di makam keluarga kerajaan.
Pekerjaan menulis biasanya hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang juga menjalankan institusi Per Ankh atau Rumah Kehidupan, serta perpustakaan (disebut Rumah Buku), laboratorium, dan observatorium.
Terdapat pula Karya-karya literatur yang terkenal, sebagian ditulis dalam bahasa Mesir Klasik, yang terus digunakan secara bahasa tertulis hingga sekitar tahun 1300 SM.
Bahasa Mesir Akhir, digunakan mulai masa Kerajaan Baru sebagaimana direpresentasikan dalam dokumen administratif Ramses, puisi dan kisah cinta, serta teks-teks Demotik dan Koptik. Selama periode ini, berkembang tradisi menulis autografi di makam.
Genre ini dikenal sebagai Sebayt (atau instruksi) dan dikembangkan sebagai usaha untuk menurunkan ajaran dan tuntunan bangsawan terkenal.
Kisah Sinuhe yang ditulis dalam bahasa Mesir Pertengahan juga dapat dikategorikan sebagai literatur Mesir klasik.
Contoh lainnya adalah Sebayt Amenemope yang dianggap sebagai mahakarya dalam dunia literatur timur tengah.
Pada masa akhir Kerajaan Baru, Bahasa Mesir Akhir lebih banyak digunakan untuk menulis seperti yang terlihat pada Cerita Wenamun dan Sebayt Any.
Cerita Wenamun menceritakan kisah tentang bangsawan yang dirampok dalam perjalanannya untuk membeli cedar dari Lebanon dan perjuangannya kembali ke Mesir.
Sejak 700 SM, cerita naratif dan Sebayt, seperti misalnya Sebayt Onchshesonqy, dan dokumen-dokumen bisnis yang ditulis dalam bahasa Demotik.
Banyak cerita pada masa Yunani-Romawi juga dalam bahasa Demotik, dan biasanya memiliki setting pada masa-masa ketika Mesir merdeka di bawah kekuasaan Fir'aun agung seperti Ramses II.
2. Terkait Seni;
Berikut merupakan peninggalan seni Mesir Kuno yang ikonik meliputi:
Arsitektur & Seni Bangunan:
Berkembang di lembah Nil, bercirikan bangunan monumental batu seperti piramida, kuil, dan mastaba untuk makam firaun, didorong kepercayaan kuat pada keabadian dan kehidupan setelah mati.
Gaya seni ditandai dengan relief, hieroglif, kolom besar, dan orientasi astronomi.
Contohnya adalah Piramida Agung Giza, Piramida Bertingkat Djoser, Kuil Karnak, Luxor, dan Abu Simbel yang menampilkan gerbang monumental (pilon) dan relief.
Seni Patung:
Patung pada peradaban Mesir kuno dibuat dari batu (seperti granit atau diorit), kayu, dan perunggu, mulai dari patung monumental hingga patung kecil.
Banyak patung menggabungkan tubuh manusia dengan kepala hewan, untuk mewakili dewa.
Beberapa contohnya adalah Patung Fir'aun dan beberapa patung dewa yang kaku namun megah, seperti patung Nefertiti, patung Sphinx dan patung-patung kecil (atau shabti) yang ditempatkan di makam sebagai pelayan di akhirat.
Lukisan dan Relief:
merupakan seni simbolis yang didominasi tema kehidupan setelah kematian dan pemujaan dewa, ditemukan terutama di makam dan kuil.
Ciri khasnya mencakup gaya dua dimensi, proporsi manusia yang terstruktur (profil wajah, dada tampak depan), penggunaan hieroglif, serta relief cekung (terbenam) yang detail.
Lukisan dinding pada makam dan kuil, menggunakan warna-warna tegas untuk menceritakan kisah religius dan kehidupan sehari-hari, sering kali menunjukkan kombinasi manusia dan hewan.
Papirus dan Hieroglif:
Papirus adalah bahan tulis kuno berbentuk kertas yang dibuat dari tanaman Cyperus papyrus di tepi Sungai Nil, digunakan oleh bangsa Mesir Kuno sejak 3500 SM.
Tanaman ini diolah dengan menyusun irisan empulur secara bersilangan, ditekan, dan dikeringkan untuk dokumen, manuskrip medis, dan keagamaan.
Sedangkan Hieroglif yang diperkirakan telah digunakan sekitar 3300 SM, merupakan sistem tulisan formal dan piktografik yang menggabungkan logogram, fonogram, dan determinatif, bukan sekadar tulisan, melainkan seni simbolis yang menggambarkan sejarah, doa, dan teks magis.
Seni kaca:
peradaban Mesir Kuno sudah mengenal, memproduksi, dan menggunakan kaca sejak ribuan tahun yang lalu. Manik-manik kaca dan bahan sejenis kaca (faience) sudah digunakan sejak masa pra-dinasti, namun pembuatan kaca sejati (atau melebur pasir kuarsa) mulai berkembang pesat pada awal Kerajaan Baru (sekitar 1550-1070 SM).
Meskipun secara teknis adalah keramik berglasir (bukan kaca padat), faience adalah pendahulu seni kaca yang sangat populer, digunakan untuk manik-manik, patung kecil (ushabti), dan jimat (atau Amulet).
Selain itu, ada pula bejana kecil (atau unguentaria) untuk parfum atau minyak, dan sisipan dekoratif berwarna biru cerah atau pirus. Teknik utamanya melibatkan pembentukan inti (core-formed), cetakan, dan hiasan batang kaca berwarna.
3. Terkait Teknologi;
berikut merupakan uraian penjelasan Terkait tentang Teknologi pada peradaban Mesir kuno:
Ilmu Matematika:
Perhitungan matematika tertua yang ditemukan berasal dari periode budaya Naqada antara 4000-3000 SM, yang juga menunjukkan bahwa bangsa Mesir ketika itu telah mengembangkan sistem bilangan.
Teks seperti Papyrus Matematika Rhind, ditulis sekitar tahun 1650 SM dan Papyrus Matematika Moskwa, yang ditulis sekitar 1850 SM, menunjukkan bahwa bangsa Mesir Kuno dapat menghitung empat operasi matematika dasar, penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian, serta menggunakan pecahan, menghitung volume kubus dan piramida, serta menghitung luas kotak, segitiga, lingkaran, dan bola.
Mereka juga memahami konsep dasar Aljabar dan Geometri, serta mampu memecahkan persamaan simultan.
Matematika Mesir Kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 10 (atau desimal). Meskipun, sistem ini berbeda dengan sistem desimal modern karena tidak menggunakan nilai tempat (atau posisional), melainkan sistem aditif (atau penjumlahan).
Simbol hieroglif untuk sistem bilangan tersebut, akan dijelaskan sebagaimana berikut:
Angka 1: digambarkan Tongkat lurus (dalam hieroglif).
Angka 10: digambarkan Tali penjerat ternak (dalam hieroglif).
Angka 100: digambarkan Gulungan papirus (dalam hieroglif).
Angka 1000: digambarkan Bunga teratai (dalam hieroglif).
Angka 10000: digambarkan Jari telunjuk (dalam hieroglif).
Angka 100.000: digambarkan berudu (dalam hieroglif).
Angka 1.000.000: digambarkan Orang dengan tangan terangkat (dalam hieroglif).
Untuk menulis angka, simbol-simbol tersebut diulang sebanyak yang diperlukan.
Sebagai contoh, untuk menulis angka 234, orang-orang Mesir kuno menggunakan dua simbol angka 100, yaitu dua kali simbol gulungan papyrus (dalam hieroglif), tiga simbol angka 10, yaitu tiga kali simbol Tali penjerat ternak (dalam hieroglif).
, serta empat simbol angka 1, yaitu empat kali simbol Tongkat lurus (dalam hieroglif)..
Matematikawan Mesir Kuno, juga telah mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari teorema Pythagoras, yang diperkirakan diperkenalkan sekitar abad ke-5 SM.
Dalam Papyrus Berlin 6619 yang ditulis sekitar 1800 SM, menyebutkan tentang metode Tali Bersimpul. Metode ini menggunakan tali dengan 12 simpul berjarak sama untuk membentuk segitiga siku-siku dengan rasio sisi 3:4:5.
Metode Tali Bersimpul ini menghasilkan sudut 90 derajat presisi, yang sangat penting untuk membangun piramida dan mengatur ulang batas tanah setelah banjir Sungai Nil.
Selain itu, Papyrus Rhind, yang ditulis sekitar 1650 SM, telah mengenal metode menghitung luas lingkaran dengan akurasi yang cukup baik untuk masanya, berikut adalah rumusnya :
Luas lingkungan ≈[(8/9)D]², di mana D adalah diameter.
Dan hasilnya mendekati rumus luas lingkaran yang banyak digunakan hari ini, yaitu π.r², dimana r adalah jari-jari, atau setengah diameter.
Ilmu Pembuatan Kapal;
Bangsa Mesir kuno telah tahu bagaimana merakit papan kayu menjadi lambung kapal sejak tahun 3000 SM.
“Archaeological Institute of America”, melaporkan bahwa beberapa kapal tertua yang pernah ditemukan, hari ini kita kenal dengan jenis kapal Abydos, karena ditemukan di wilayah Abydos,, Mesir Hulu ini dibuat dari papan kayu yang "dijahit" menggunakan tali pengikat.
Awalnya kapal-kapal tersebut diperkirakan sebagai milik Fir'aun Khasekhemwy yang memerintah sekitar 2690 SM, karena ditemukan dikubur bersama dan berada di dekat kamar jenasahnya, namun penelitian menunjukkan bawa kapal-kapal itu lebih tua dari usia sang Fir'aun, sehingga kini diperkirakan sebagai kapal milik Fir'aun yang lebih terdahulu.
Menurut profesor David O'Connor dari New York University, kapal-kapal itu kemungkinan merupakan kapal milik Fir'aun Ay (sekitar 1327–1323 SM).
Namun meskipun bangsa Mesir Kuno memiliki kemampuan untuk membuat kapal yang sangat besar dan mudah dikendalikan di atas sungai Nil, mereka tidak dikenal sebagai pelaut yang handal.
Ilmu Pengobatan
Permasalahan medis di Mesir kuno kebanyakan berasal dari kondisi lingkungan di sana. Hidup dan bekerja di dekat sungai Nil mengakibatkan mereka terancam penyakit seperti Malaria dan parasit Schistosomiasis, yang dapat mengakibatkan kerusakan hati dan dan pencernaan.
Binatang berbahaya seperti buaya dan kuda nil juga menjadi ancaman. Cedera akibat pekerjaan yang sangat berat, terutama dalam bidang konstruksi dan militer, juga sering terjadi. Kerikil dan pasir di tepung (muncul akibat proses pembuatan tepung yang belum canggih) merusak gigi, sehingga menyebabkan mereka mudah terserang Abses.
Hidangan yang dimakan orang kaya di Mesir kuno biasanya mengandung banyak gula, yang mengakibatkan banyaknya penyakit Periodontitis. Meskipun di dinding-dinding makam kebanyakan orang kaya digambarkan memiliki tubuh yang kurus, berat badan Mumi mereka menunjukkan bahwa mereka hidup secara berlebihan. Harapan hidup orang dewasa berkisar antara 35 tahun untuk laki-laki dan 30 tahun untuk wanita.
Tabib-tabib Mesir Kuno termasyhur dengan kemampuan pengobatan mereka dan beberapa, seperti Imhotep, yang hidup sezaman dengan Fir'aun Djoser (sekitar 2686–2648 SM), tetap dikenang meskipun telah lama meninggal.
Herodotus mengatakan bahwa terdapat pembagian spesialisasi yang tinggi di antara tabib-tabib Mesir; misalnya beberapa tabib hanya mengobati permasalahan pada kepala atau perut, sementara yang lain hanya mengobati masalah mata atau gigi.
Pelatihan untuk tabib terletak di Per Ankh atau institusi "Rumah Kehidupan," yang paling terkenal terletak di Per-Bastet semasa Kerajaan Baru (sekitar 1550–1069 SM) dan di Abydos serta Saïs di Periode Akhir (sekitar 664–332 SM).
Sebuah papirus medis menunjukkan bahwa bangsa Mesir memiliki pengetahuan empiris soal anatomi, luka, dan perawatannya.
Luka-luka dirawat dengan cara membungkusnya dengan daging mentah, linen putih, jahitan, jaring, blok, dan kain yang dilumuri madu untuk mencegah infeksi.
Mereka juga menggunakan opium untuk mengurangi rasa sakit. Bawang putih maupun merah dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kesehatan dan dipercaya dapat mengurangi gejala Asma.
Ahli bedah mesir mampu menjahit luka, memperbaiki tulang yang patah, dan melakukan amputasi.
Mereka juga mengetahui bahwa ada beberapa luka yang sangat serius, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah membuat pasien merasa nyaman menjelang ajalnya.
4. Militer;
Angkatan perang Mesir kuno bertanggung jawab untuk melindungi Mesir dari serangan asing, dan menjaga kekuasaan Mesir di Timur Dekat Kuno.
Tentara Mesir kuno melindungi ekspedisi penambangan ke Sinai pada masa Kerajaan Lama (sekitar 2686–2181 SM), dan terlibat dalam perang saudara selama Periode Menengah Pertama (sekitar 2181–2055 SM) dan Kedua (sekitar 1782–1550 SM).
Selain itu, Angkatan perang Mesir juga bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan terhadap jalur perdagangan penting, seperti kota Buhen pada jalan menuju Nubia.
Benteng-benteng juga didirikan, seperti benteng di Sile, yang merupakan basis operasi penting untuk melancarkan ekspedisi ke Levant.
Pada masa Kerajaan Baru (sekitar 1550–1069 SM), Fir'aun menggunakan angkatan perang Mesir untuk menyerang dan menaklukan Kerajaan Kush dan sebagian Levant.
Peralatan militer yang digunakan pada masa itu adalah panah, tombak, dan perisai berbahan dasar kerangka kayu dan kulit binatang.
Pada masa Kerajaan Baru (sekitar 1550–1069 SM), angkatan perang mulai menggunakan kereta perang yang awalnya diperkenalkan oleh penyerang dari Hyksos.
Senjata dan baju zirah terus berkembang setelah penggunaan perunggu: perisai dibuat dari kayu padat dengan gesper perunggu, ujung tombak dibuat dari perunggu, dan Khopesh atau pedang berbentuk sabit khas Mesir Kuno (berasal dari tentara Asiatik) mulai digunakan.
Tentara direkrut dari penduduk biasa; namun, selama dan terutama sesudah masa Kerajaan Baru, tentara bayaran dari Nubia, Kush, dan Libya dibayar untuk membantu Mesir.
5. Adat Pemakaman;
Orang Mesir Kuno mempertahankan seperangkat adat pemakaman yang diyakini sebagai kebutuhan untuk menjamin keabadian setelah kematian.
Berbagai kegiatan dalam adat ini adalah: proses mengawetkan tubuh melalui Mumifikasi, upacara pemakaman, dan penguburan mayat bersama barang-barang yang akan digunakan oleh almarhum di akhirat.
Sebelum periode Kerajaan Lama, tubuh mayat dimakamkan di dalam lubang gurun, cara ini secara alami akan mengawetkan tubuh mayat melalui proses pengeringan.
Kegersangan dan kondisi gurun telah menjadi keuntungan sepanjang sejarah Mesir Kuno bagi kaum miskin yang tidak mampu mempersiapkan pemakaman sebagaimana halnya orang kaya.
Orang kaya mulai menguburkan orang mati di kuburan batu, akibatnya mereka memanfaatkan mumifikasi buatan, yaitu dengan mencabut organ internal, membungkus tubuh menggunakan kain, dan meletakkan mayat ke dalam Sarkofagus berupa batu empat persegi panjang atau peti kayu.
Pada permulaan dinasti keempat, beberapa bagian tubuh mulai diawetkan secara terpisah dalam Toples Kanopik.
Pada periode Kerajaan Baru, orang Mesir Kuno telah menyempurnakan seni mumifikasi. Teknik terbaik pengawetan mumi memakan waktu kurang lebih 70 hari lamanya, selama waktu tersebut secara bertahap dilakukan proses pengeluaran organ internal, pengeluaran otak melalui hidung, dan pengeringan tubuh menggunakan campuran garam yang disebut natron.
Selanjutnya tubuh dibungkus menggunakan kain, pada setiap lapisan kain tersebut disisipkan jimat pelindung, mayat kemudian diletakkan pada peti mati yang disebut antropoid. Mumi periode akhir diletakkan pada laci besar cartonnage yang telah dicat.
Praktik pengawetan mayat asli mulai menurun sejak zaman Ptolemeus dan Romawi, pada zaman ini masyarakat mesir kuno lebih menitik-beratkan pada tampilan luar mumi.
Orang kaya Mesir dikuburkan dengan jumlah barang mewah yang lebih banyak. Tradisi penguburan barang mewah dan barang-barang sebagai bekal almarhum juga berlaku pada semua masyarakat tanpa memandang status sosial.
Pada permulaan Kerajaan Baru, Kitab Kematian ikut disertakan di kuburan, bersamaan dengan patung shabti yang dipercaya akan membantu pekerjaan mereka di akhirat.
Setelah pemakaman, kerabat yang masih hidup diharapkan untuk sesekali membawa makanan ke makam dan mengucapkan doa atas nama almarhum.
Komentar
Posting Komentar