Periodisasi Peradaban Mesir Kuno (6000-30 SM)

Peradaban Mesir Kuno, yang berkembang di sepanjang Sungai Nil sejak sekitar 3100 SM, secara tradisional dipisahkan menjadi beberapa periode utama untuk memudahkan pemahaman dinamika politik, budaya, dan arsitekturnya. 
Periodisasi ini mencakup Zaman Pradinasti, Kerajaan Lama, Periode Menengah Pertama, Kerajaan Tengah, Periode Menengah Kedua, serta Kerajaan Baru, yang masing-masing ditandai oleh fluktuasi kekuasaan firaun, pembangunan monumen megah seperti piramida, dan tantangan eksternal.
Untuk lebih memahaminya, simak hingga akhir materi ini, hanya di Humaniora… 

Perkembangan Peradaban Mesir Kuno berpusat di daerah hilir Sungai Nil, yang dibagi kronologi sejarahnya berdasarkan stabilitas politik, dinasti firaun, dan pencapaian budaya, yang umumnya mencakup periode kerajaan stabil bergantian dengan masa transisi atau kemunduran.
Manetho, seorang pendeta Mesir dari Sebennytos, pada abad ke-3 SM, menulis karya yang berjudul Aegyptiaca (atau Sejarah Mesir) , membagi sejarah Mesir Kuno menjadi 30 dinasti penguasa, mulai dari Menes hingga Mesir dibawah kekuasaan Alexander Agung. Pembagian ini menjadi dasar utama sistem periodisasi modern, dan kemudian distrukturisasi oleh sejarawan modern abad 19-20 M.
Berikut adalah periodesasi utama Mesir Kuno:

Periode Pradinasti (sebelum 3100 SM):
Periode Pra-Dinasti merupakan masa awal perkembangan masyarakat di lembah Sungai Nil sebelum penyatuan Mesir oleh Raja Menes. 
Pada periode ini, iklim Mesir lebih subur dengan sabana berhutan, dan masyarakat beralih dari berburu ke pertanian serta peternakan melalui irigasi awal dengan bukti kanal irigasi awal.
Munculnya beberapa kebudayaan menandai awal perkembangan Mesir kuno, seperti budaya Badari, yang merupakan salah satu budaya Neolitik awal di Mesir Hulu (sekitar 4500-4000 SM), dengan keramik halus, peralatan batu, tembaga, serta barang pribadi seperti sisir serta manik-manik; 
Kemudian diikuti oleh budaya Amratian, yang juga dikenal sebagai Naqada I (sekitar 4000-3500 SM), merupakan fase lanjutan dari budaya Badari di Mesir Hulu. Budaya ini Terkenal dengan tembikar bergaris bergelombang (wavy-handled pottery) berwarna merah-hitam dengan motif geometris atau hewan, serta perkembangan patung kecil dari tanah liat dan gading, yang menunjukkan representasi manusia awal. 
Kebudayaan Naqada I, terdapat bukti kontak perdagangan dengan Nubia dan Levant yang membawa impor batu obsidian dan tembaga; muncul peralatan batu yang lebih halus dan senjata tembaga. 
Makam oval dengan barang kubur sederhana seperti vas keramik dan perhiasan menandakan keyakinan akhirat yang berkembang; 
Setelah itu, berkembang budaya Gerzean, yang dikenal juga dengan budaya Naqada II, sekitar 3500-3200 SM. Budaya ini menunjukkan ekspansi wilayah ke utara (Delta Nil) dan selatan (Nubia), dengan kemajuan teknologi, perdagangan, dan stratifikasi sosial yang menandai munculnya elite penguasa awal.
Periode ini ditandai dengan munculnya pemukiman urban awal dengan pengrajin khusus dan simbol kekuasaan seperti kapak perang (macehead). Periode ini produksi tembaga meningkat untuk perhiasan, kapak, serta pisau, sedangkan emas dan perak untuk perhiasan, termasuk berkembang nya perdagangan obsidian dari Levant. 
Tembikar marl bergaya baru dengan lukisan coklat-ochre pada dasar krem, motif geometris (segitiga, spiral, garis bergelombang) merupakan salah satu ciri budaya Naqada II. Prosesi pemakaman; termasuk "Painted Tomb" di Hierakonpolis dengan mural religius, dengan makam bervariasi dari lubang sederhana hingga rectangular dengan partisi bata lumpur, peti kayu, dan kain pembungkus jenazah. 
Pada periode budaya Naqada II, sudah terlihat konflik antar kota, seperti Abydos dengan Hierakonpolis, berujung penyatuan Mesir, yang terjadi pada budaya Naqada III (sekitar 3200-3000 SM), yang juga disebut periode Protodinastik, merupakan fase akhir budaya Naqada di Mesir Hulu yang menandai transisi menuju Dinasti Awal.
Periode ini ditandai oleh konsolidasi kekuasaan awal di pusat, seperti Hierakonpolis dan Abydos.
Periode ini ditandai dengan Kemunculan hieroglif awal, pada narasi grafis palet, seperti Palette Narmer, yang diperkirakan berasal dari abad ke-31 SM. 
Produksi tembikar mulai dicat, dengan vas batu berkualitas tinggi, pelat kosmetik, serta mulai terlihat glasir keramik bening. 

Periode Dinasti Awal (sekitar 3100–2686 SM): 
Periode ini menandai penyatuan Mesir Hulu dan Hilir, sering dikaitkan dengan Raja Narmer atau Menes, yang mendirikan ibu kota di Memphis, untuk mengontrol wilayah delta yang subur. 
Penyatuan ini terlihat dalam Pelat Narmer (Narmer Palette) yang berasal sekitar abad 31 SM. Pelat ini ditemukan oleh arkeolog Inggris bernama James E. Quibell dan Frederick W. Green di kuil Horus di Hierakonpolis pada tahun 1894. 
Ahli sejarah Mesir, Bob Brier dan A. Hoyt Hobbs menyebut Palet Narmer sebagai "Catatan sejarah Mesir tertua".
Pelat Narmer memberikan salah satu penggambaran raja Mesir paling awal yang diketahui. 
Di satu sisi, raja digambarkan dengan Mahkota Putih berbentuk bulat dari Mesir Hulu (selatan), dan sisi lainnya menggambarkan raja mengenakan Mahkota Merah datar dari Mesir Hilir (utara), yang juga menjadikannya contoh paling awal yang diketahui dari seorang raja yang mengenakan kedua jenis penutup kepala tersebut.
Secara administrasi, Periode ini memunculkan birokrasi nasional dengan wazier sebagai perdana menteri, gubernur daerah yang dikenal dengan sebutan Nomarch, 
Sistem penulisan hieroglif mulai berkembang, dengan bukti untuk catatan pajak dan perdagangan. 
Selain itu, Periode ini meninggalkan pemakaman mastaba, yang berbentuk persegi panjang dengan atap datar dan sisi miring, dibangun menggunakan batu bata lumpur atau batu, merupakan cikal bakal Piramida, seperti di Saqqara yaitu Piramida Djoser (atau Piramida berundak), dan Abydos, khususnya Piramida Ahmose. 


Periode Kerajaan Lama (2686–2181 SM): 
Merupakan era keemasan Mesir Kuno yang mencakup Dinasti ke-3 hingga ke-6, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, berbasis pertanian dan perdagangan, serta munculnya kelas juru tulis dan pejabat terdidik.
Pemerintahan terpusat yang kuat di Memphis, serta stabilitas politik, di mana Fir'aun memerintah sebagai raja absolut dan inkarnasi dewa Horus. Sistem nome (provinsi) diperkuat di bawah pengawasan Wazir (Pejabat Tinggi Administrasi, pembantu Raja), dengan pajak dan tenaga kerja yang terorganisir untuk proyek negara. 
Periode ini juga mengalami kemajuan arsitektur luar biasa, dan dikenal dengan Zaman Piramida, terlihat dari Pembangunan piramida bertingkat pertama oleh Djoser (Dinasti ke-3) dan piramida sejati di Giza oleh Fir'aun Dinasti ke-4 (yaitu Fir'aun Khufu (berkuasa hingga sekitar 2566 SM) , Khafre (2520-2494 SM), dan Fir'aun Menkaure (2490-2472 SM).
Sayangnya, pada dinasti ke-6, setelah meninggalnya Fir'aun Pepi II Neferkare ( sekitar  2284 –2214 SM ) yang berpusat di Memphis, Mesir mengalami kemunduran, ditandai dengan meningkatnya kekuatan penguasa daerah (nomark), krisis ekonomi, dan kekeringan parah yang memicu Periode Menengah Pertama. 

Periode Menengah Pertama (2181–2055 SM): 
Konsep "Periode Menengah Pertama" dicetuskan pada tahun 1926 oleh para ahli Mesir Kuno, diantaranya Georg Steindorff dan Henri Frankfort .
Merupakan masa transisi ditandai perpecahan politik antara Dinasti ke-7 hingga ke-11 awal. Periode Menengah Pertama ini,digambarkan sebagai 'periode gelap' dalam sejarah Mesir kuno
Sangat sedikit bukti monumental yang tersisa dari periode ini, terutama dari awal era tersebut. 
Periode Menengah Pertama adalah masa yang dinamis di mana kekuasaan Mesir kurang lebih terbagi rata antara dua basis kekuasaan yang bersaing. Salah satu basis tersebut berada di Heracleopolis di Mesir Hilir , sebuah kota di selatan wilayah Faiyum , dan yang lainnya berada di Thebes , di Mesir Hulu . 
Diyakini bahwa selama masa itu, kuil-kuil dijarah dan dinodai, karya seni dirusak, dan patung-patung raja dihancurkan atau dirusak sebagai akibat dari kekacauan politik yang diperkirakan terjadi.
Di Akhir Periode, Raja Thebes, yaitu Mentuhotep II (2046 – 1995 SM), berhasil mengalahkan Heracleopolis dan menyatukan kembali Mesir, menandai awal Kerajaan Tengah.

Periode Kerajaan Pertengahan (2055–1650 SM): 
Periode ini dimulai dengan kemenangan Mentuhotep II (2046 – 1995 SM) dari Thebes, yang mengakhiri perpecahan politik. 
Dinasti ke-12 (sekitar 1985–1795 SM) dianggap sebagai puncak, di mana para firaun seperti Amenemhat I (1991–1962 SM) memindahkan ibu kota ke wilayah Fayyum untuk mengelola pertanian secara lebih efektif.
Firaun melakukan kampanye militer ke Nubia untuk emas dan ke wilayah Levant (sekitar Suriah-Palestina) untuk perdagangan.
Kerajaan Pertengahan sering disebut sebagai zaman klasik sastra Mesir. Seni patung dan arsitektur piramida (bata lumpur) kembali berkembang, meskipun tidak semegah masa sebelumnya. Osiris yang dikenal sebagai dewa dunia bawah (alam baka), kematian, kebangkitan, kesuburan, dan pertanian, menjadi dewa populer yang utama.
Firaun pada masa ini tidak lagi dipandang sebagai raja-dewa absolut seperti di Kerajaan Lama, melainkan sebagai "gembala rakyat" yang fokus pada kesejahteraan sosial dan pembangunan infrastruktur.
Di Akhir Periode, Kekuatan pusat mulai melemah pada Dinasti ke-13, yang menyebabkan imigran Asia (Hyksos) di Delta timur laut tumbuh menjadi kekuatan dominan, mengakhiri era ini dan memasuki Periode Menengah Kedua sekitar 1650 SM. 


Periode Menengah Kedua (1650–1550 SM): 
Periode ini menandai suatu masa ketika Mesir kuno terbagi menjadi dinasti-dinasti yang lebih kecil untuk kedua kalinya, antara akhir Kerajaan Tengah dan awal Kerajaan Baru .
Periode ini paling dikenal sebagai periode ketika bangsa Hyksos dari Asia Barat mendirikan Dinasti ke-15 dan memerintah dari Avaris , yang terletak di lokasi modern Tell el-Dab'a di wilayah timur laut Delta Nil . Menurut Aegyptiaca karya Manetho , dinasti ini didirikan oleh seorang raja bernama Salitis, yang berkuasa sekitar 1659 SM, dan kemungkinan berasal dari Semit Barat, Levant. 
Periode Hyksos menandai periode pertama di mana penguasa asing memerintah Mesir. Mereka mempraktikkan banyak kebiasaan Levant atau Kanaan di samping kebiasaan Mesir, dan dianggap telah memperkenalkan beberapa inovasi teknologi ke Mesir, seperti kuda dan kereta perang , serta khopesh (pedang sabit) dan busur komposit , walaupun teori ini masih diperdebatkan.
Bangsa Hyksos tidak menguasai seluruh Mesir. Mereka hidup berdampingan dengan Dinasti Ke-16 dan Ke-17, yang berpusat di Thebes. 
Peperangan antara bangsa Hyksos dan Fir'aun Dinasti Ke-17 pada akhir masa pemerintahannya, akhirnya berujung pada kekalahan bangsa Hyksos oleh Ahmose I, yang mendirikan Dinasti Ke-18, Mesir, dan berkuasa antara 1570-1514 SM. 
Raja pertama Dinasti ke-18, Ahmose I ini, menyelesaikan pengusiran Hyksos dari Mesir dan mengkonsolidasikan kekuasaannya atas negeri itu, menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. 

Periode Kerajaan Baru (1550–1069 SM): 
Periode ini merupakan era keemasan puncak kejayaan, kemakmuran, dan perluasan wilayah terbesar di Mesir Kuno, mencakup Dinasti ke-18 hingga ke-20. Kerajaan Mesir mencapai wilayah terluasnya, membentang dari Nubia di selatan hingga Suriah di utara, serta memperkuat pertahanan terhadap Levant. Pusat Ibu kota berada di Thebes (di Luxor sekarang), tempat dibangunnya kuil-kuil agung seperti kuil Karnak dan Lembah Para Raja (Valley of the Kings) .
Berikut beberapa Fir'aun Terkenal pada periode ini, diantaranya adalah:
Ahmose I (sekitar 1550–1525 SM):
adalah Firaun pendiri Dinasti ke-18 yang menyatukan kembali Mesir Kuno, mengusir penjajah Hyksos, dan memulai periode Kerajaan Baru yang jaya. Sebagai putra Seqenenre Tao II dan saudara Kamose, ia merestorasi kekuasaan Thebes, memperluas wilayah ke Nubia dan Kanaan, serta membangun piramida kerajaan terakhir di Abydos. 
Hatshepsu (sekitar 1508-14058 SM) :
Hatshepsut yang berarti Perempuan Bangsawan Paling Terkemuka, adalah firaun kelima dari Dinasti ke-18 di Mesir kuno. 
Para Egiptolog umumnya menganggap sebagai Fir'aun perempuan yang paling berhasil di Mesir, yang memerintah lebih lama daripada perempuan penguasa manapun dalam sebuah dinasti asli Mesir.
Thutmose III (sekitar 1479–1425 SM):
adalah Fir'aun keenam dari Dinasti ke-18 Mesir Kuno, yang dikenal sebagai "Napoleon Mesir" karena kejeniusan militer dan penaklukannya yang memperluas wilayah Mesir hingga puncaknya. Ia memimpin setidaknya 17 kampanye militer dalam 20 tahun, menguasai wilayah Suriah, Palestina, dan Nubia.
Akhenaten (sekitar 1353 –1334 SM):
adalah seorang firaun Mesir kuno yang memerintah  1353–1336 atau 1351–1334 SM, penguasa kesepuluh dari Dinasti kedelapan belas. 
Sebelum tahun kelima pemerintahannya, ia dikenal sebagai Amenhotep IV (di hellenisasi sebagai Amenophis IV).
Akhenaten terkenal karena meninggalkan politeisme tradisional Mesir dan memperkenalkan Atenisme, atau ibadah yang berpusat pada Aten (adalah dewa matahari pada mitologi Mesir) .
Tutankhamun (1332 – 1323 SM):
adalah firaun ketiga belas dari Dinasti Kedelapan Belas Mesir kuno. Dia melembagakan pemulihan bentuk politeistik tradisional agama Mesir kuno , membatalkan pergeseran sebelumnya ke agama yang dikenal sebagai Atenisme . Masa pemerintahan Tutankhamun dianggap sebagai salah satu periode pemulihan terbesar dalam sejarah Mesir kuno, dan pintu makamnya menyatakan dedikasinya pada konstruksi ilustratif dewa-dewa Mesir kuno.
Tutankhamun adalah salah satu dari sedikit raja yang diketahui disembah sebagai dewa selama masa hidupnya. Dan dimungkinkan, yang memulai pembangunan makam kerajaan di Lembah Para Raja dan kuil pemakaman yang menyertainya, dugaan ini dikarenakan keduanya belum selesai pada saat kematiannya.
Ramses II (memerintah 1279–1213 SM): 
adalah salah satu firaun paling berkuasa dari Dinasti ke-19 Mesir Kuno, sering dijuluki Ramses Agung. Memerintah selama 66 hingga 67 tahun. 
Ramses II terkenal karena kampanye militer, seperti Pertempuran Kadesh (sekitar 1275 SM) melawan bangsa Het di Suriah, dan menandatangani perjanjian damai pertama yang tercatat dalam sejarah dengan bangsa Het.
Ramses II juga dikenal sebagai pemimpin yang memakmurkan Mesir dan meninggalkan warisan arsitektur terbesar dibanding firaun lainnya. Ia memerintahkan untuk membangun ibu kota baru, yaitu Pi-Ramesses. Selain itu, proyek pembangunan dua kuil di Abu Simbel dan kompleks pemakaman Ramesseum. 
Dinasti ke-19 dan Dinasti ke-20 selanjutnya bersama-sama membentuk suatu era yang dikenal sebagai periode Ramesside. 
Dinasti ini didirikan oleh Wazir Ramesses I (antara 1292-1290 SM), yang dipilih oleh Fir'aun Horemheb (sekitar 1319–1292 SM), yang merupakan firaun terakhir dari Dinasti ke-18 Mesir, untuk meneruskan takhtanya. 

Periode Menengah Ketiga (1069–664 SM): 
Periode ini merupakan masa kemunduran politik dan perpecahan yang ditandai dengan pemerintahan dinasti ke-21 hingga ke-25, di mana Mesir kehilangan kesatuan sentral setelah runtuhnya Kerajaan Baru. 
Setelah kematian Firaun Ramses XI, Mesir terpecah menjadi negara-negara kecil dengan penguasa lokal, di mana pusat kekuasaan sering beralih antara Tanis di utara dan Thebes di selatan.
Selain itu, Periode ini juga ditandai dengan invasi oleh Penguasa Libya kuno yang didirikan oleh Shoshenq I (943–922 SM), berasal dari keturunan Meshwesh, dari Berber, yang dikenal dengan Dinasti Bubastite. Penguasaan terhadap Mesir dari luar ini juga dikenal dengan dinasti ke-22. 
Setelah itu, pada dinasti ke-25, Mesir dikuasai oleh penguasa yang berasal dari luar Mesir, dan dikenal sebagai dinasti Kushite, atau dikenal pula dengan sebutan ‘Fir'aun Hitam’, karena berasal dari bangsa Kush, Sudan, yang berkulit hitam. Kekuasaan mereka berlangsung antara tahun 760 hingga 656 SM, berikut uraiannya:
Penguasaan dinasti Kushite ini dimulai dari Kashta (sekitar tahun 760–747 SM), yang diakui sebagai raja pertama dari garis keturunan Nubia yang memerintah sebagai Fir'aun,memperluas kekuasaan Nubia ke Thebes secara damai saat Mesir tidak stabil, menjadikannya pelopor bagi anaknya, Piye, yang kemudian menguasai seluruh Mesir.
Piye atau Piankhi (sekitar 744–714 SM) adalah raja Kushite kuno dari Napata, Nubia (Sudan modern), putra Raja Kashta. Dia dipandang sebagai pembebas yang menghidupkan kembali tradisi, budaya, dan pemujaan dewa Amun-Ra yang sempat luntur akibat penguasa lokal yang korup. Berbeda dengan ayahnya, Piye meluncurkan kampanye militer dari Nubia ke utara, mengalahkan berbagai pemimpin lokal, dan menguasai Lembah Nil hingga Laut Mediterania. Kisah penaklukannya didokumentasikan dalam stela (prasasti) kemenangan yang terkenal di Gebel Barkal.
Shabaka (sekitar 705–690 SM) adalah firaun ketiga dari Dinasti ke-25 Mesir (dinasti Kush/Nubia), saudara dari Piye, yang dikenal memulihkan tradisi kuno Mesir dan mendirikan ibukota di Thebes. Masa pemerintahannya cenderung damai dan fokus pada pembangunan kembali kuil-kuil di seluruh Mesir Hulu dan Hilir.
Dia terkenal karena memerintahkan pembuatan Batu Shabaka, sebuah prasasti basal hitam yang melestarikan teks teologi penciptaan Memphis kuno. Artefak ini merupakan salinan teks keagamaan lama yang diselamatkan oleh Shabaka dari dokumen yang dimakan rayap. Batu tersebut memuat ajaran Memphis tentang Ptah, Sang Pencipta.
Taharqa memerintah Mesir antara 690–664 SM, merupakan putra Raja Piye. Dia dikenal sebagai raja yang produktif dalam hal pembangunan, termasuk membangun monumen di seluruh Mesir dan Nubia, seperti Kuil Amun-Re di Kawa dan kolom besar di Karnak.
Ketika invasi Asyur pertama yang dipimpin oleh Esarhaddon (681– 669 SM), Taharqa memimpin perlawanan, dan memukul mundur Asyur pada 674 SM. Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 671 SM, Esarhaddon kembali dengan pasukan yang lebih besar, menaklukkan Memphis, dan menawan keluarga kerajaannya. Sedangkan Taharqa melarikan diri ke selatan.
Disaat ini, raja Esarhaddon meninggal dan digantikan putranya yang bernama Asyurbanipal (668 – 627 SM) , melanjutkan peperangan dengan Mesir hingga Taharqa meninggal sekitar tahun 664 SM. 
Wahibre Psamtik I (664–610 SM) dari dinasti ke-26, berhasil menyatukan kembali Mesir, pada tahun ke-9 pemerintahannya (sekitar 656 SM) dengan menaklukkan Thebes, sekaligus mengakhiri sisa-sisa kekuasaan Nubia (Dinasti ke-25).
Awalnya dia adalah satu-satunya pemimpin yang tunduk, dan oleh Ashurbanipal dari Kekaisaran Neo-Asyur dijadikan sebagai penguasa di Sais, kemudian Psamtik I memanfaatkan penurunan kekuatan Asyur untuk memerdekakan Mesir dari pengaruh mereka.
Untuk memperkuat militernya, dia merekrut tentara bayaran dari Yunani, Karia, dan Libya, membantu melawan penguasa lokal dan menjaga perbatasan.
Pemerintahan Psamtik I ditandai dengan "Renaisans Sais", atau kebangkitan seni dan budaya Mesir, menghidupkan kembali tradisi, gaya, dan nilai-nilai dari masa Kerajaan Lama (sekitar 2575–2130 SM). Dia mendorong perdagangan dan memberikan sumbangan tanah besar kepada kuil-kuil, yang menstabilkan ekonomi Mesir.


Periode Akhir (664–332 SM): 
Ketika bangsa Asyur mundur setelah invasi terakhir mereka pada tahun 664 SM, Mesir berada di tangan raja-raja Saite, meskipun sebenarnya baru pada tahun 656 SM penguasa Saite, Psamtik I, mampu menegaskan kembali kendali atas wilayah selatan negara itu, yang didominasi oleh Thebes. 
Selama 130 tahun berikutnya, Mesir menikmati keuntungan dari pemerintahan oleh satu keluarga yang kuat, yaitu Dinasti 26. 
Salah satu ciri penting dari Periode Akhir adalah keragaman praktik keagamaan yang tampak dalam prasasti dan peninggalan material. Keragaman pada Periode Akhir Mesir (664–332 SM) ditandai dengan keberadaan pemukim Yunani di Naukratis dan adopsi gaya artistik baru yang dipadukan dengan tradisi tradisional, peningkatan kultus hewan seperti burung ibis, kucing, buaya, dan pengaruh budaya asing (Yunani/Persia). 
Selain itu, Pemujaan Osiris, Isis, dan Horus tetap kuat meskipun terjadi perubahan politik. 
terkait Praktik Pemakaman, Penggunaan peti mati dan naskah pemakaman yang semakin rinci, hal ini terlihat pada temuan: Book of the Dead, merupakan kumpulan sekitar 190 mantra, doa, dan panduan magis pada gulungan papirus yang digunakan (sekitar 1550-50 SM) untuk membantu jiwa menavigasi dunia bawah, melewati bahaya, dan mencapai kehidupan abadi. Disebut juga "Mantra untuk Keluar di Siang Hari," teks ini ditulis dalam hieroglif dan sering disertai ilustrasi. 


Periode Ptolemaik, Romawi (332 SM–30 SM): 
Adalah sebuah negara Yunani kuno yang berpusat di Mesir selama periode Helenistik. Kerajaan ini didirikan pada tahun 305 SM oleh jenderal Yunani Makedonia, bernama Ptolemy I Soter (305 – Januari 282 SM), merupakan seorang sahabat Alexander Agung. 
Mesir diperintah oleh dinasti Ptolemaik hingga kematian Cleopatra VII yang merupakan keturunan dari pendiri wangsanya, Ptolemaios I Soter, pada tahun 30 SM. 
Berkuasa selama hampir tiga abad, dinasti Ptolemaik adalah dinasti terpanjang dan terakhir di Mesir kuno , yang menandai era sinkretisme agama dan budaya yang berbeda antara budaya Yunani dan Mesir, salah satu contoh nya adalah penyembahan dewa Serapis, gabungan budaya Yunani dan Mesir.
Dewa ini menggabungkan atribut Osiris dan banteng Apis (Mesir) dengan Zeus dan Hades (Yunani), sering digambarkan sebagai sosok berjanggut dengan modius (keranjang pengukur biji-bijian) di kepalanya. 



Komentar